Bandar Lampung (Lampost.co) — Sektor pendidikan turut berhadapan pada tantangan besar seiring cepatnya transformasi digital dan hadirnya kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran (penggunaan AI).
Poin penting :
1. Sektor pendidikan harus sejalan dengan perkembangan teknologi AI.
2. Sasaran program AI mencakup guru, orang tua, dan peserta anak sekolah.
3. Ekosistem teknologi tak terpisahkan oleh pendidikan.
Pemanfaatan AI tidak lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan yang harus berlangsung secara adaptif dan bertanggung jawab oleh para pendidik.
Sekretaris Umum PGRI Lampung Sakijo mengatakan laju perubahan teknologi menuntut guru untuk siap beradaptasi.
Menurutnya, kehadiran kecerdasan buatan menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem pendidikan saat ini.
“PGRI Provinsi Lampung sangat mendukung peningkatan literasi AI, karena kami ingin guru-guru Lampung tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pemain yang cakap, bijak, dan beretika dalam memanfaatkan teknologi,” ujarnya dalam agenda Pelatihan AI Ready ASEAN pada Rabu, 14 Januari 2025.
Baca juga : Nilai Budaya Harus Jadi Fondasi Moral Teknologi AI
Sakijo menjelaskan, pelatihan AI mampu memperkuat literasi kecerdasan artifisial di kalangan guru.
Penguasaan tersebut perlu agar AI dapat bermanfaat untuk mendukung administrasi sekolah serta proses belajar mengajar dalam kelas.
Selain aspek teknis, Sakijo menekankan pentingnya etika dan nilai kemanusiaan dalam penggunaan AI.
Hal tersebut menjadi krusial agar pendidik dan peserta didik terhindar dari penyalahgunaan informasi maupun penyebaran hoaks.
Sementara itu, Project Manager AI Ready ASEAN–ASEAN Foundation Diera Gala Paksi menyampaikan program AI Ready ASEAN merupakan inisiatif regional yang relaksana secara serentak seluruh negara ASEAN.
Ia menyebut AI Ready ASEAN Program dapat dukungan penuh oleh Google.org dan menargetkan menjangkau 5,5 juta individu pada 10 negara ASEAN. Sasaran program ini mencakup guru, orang tua, dan peserta anak sekolah.
Ia juga menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya berbentuk pelatihan, tetapi mencakup training of trainers, pembelajaran mendalam, serta riset untuk mengukur kompetensi guru, orang tua, dan siswa.
“Program ini sudah berjalan pada Oktober 2024 dan hingga saat ini telah menjangkau sekitar 2,5 juta penerima manfaat. Artinya, kita sudah setengah jalan menuju target hingga akhir tahun 2026,” ujarnya.
Diera menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, komunitas, guru, orang tua, hingga mitra implementasi lokal.
Ia berharap AI sebagai alat bantu yang memberi manfaat positif dan berguna secara bertanggung jawab dalam dunia pendidikan.








