Ancaman Iran di Selat Hormuz Bikin Dunia Tegang, AS Ditekan Pilih Perang atau Kesepakatan

Iran memiliki kemampuan untuk menghadapi bahkan menenggelamkan kapal perang.

Editor Effran
Selasa, 05 Mei 2026 10.37 WIB
Ancaman Iran di Selat Hormuz Bikin Dunia Tegang, AS Ditekan Pilih Perang atau Kesepakatan
Kondisi Israel akibat serangan Iran. REUTERS/Ronen Zvulun

Teheran (Lampost.co) — Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Pernyataan keras datang dari pejabat Iran, Mohsen Rezaee yang menyebut Selat Hormuz bisa berubah menjadi “kuburan” bagi armada Amerika Serikat (AS).

Ia membandingkan kekuatan militer AS dengan bajak laut modern. Menurutnya, Iran memiliki kemampuan untuk menghadapi bahkan menenggelamkan kapal perang.

“AS adalah satu-satunya bajak laut di dunia yang memiliki kapal induk,” ujarnya dalam pernyataan di platform X.

Tak hanya pernyataan individu, sikap keras juga datang dari Islamic Revolutionary Guard Corps.

Mereka menilai Donald Trump kini berada dalam posisi sulit. Pilihan yang tersisa hanya dua, yaitu operasi militer yang sulit atau menerima kesepakatan yang tidak menguntungkan. “Iran mengembalikan bola ke tangan Trump,” tulis pernyataan resmi mereka.

Di sisi lain, tekanan global terhadap Washington juga meningkat. Negara seperti China, Rusia, hingga Eropa mulai mengubah pendekatan terhadap konflik ini.

Konflik Meletus, Serangan Balasan Tak Terhindarkan

Ketegangan itu berawal dari serangan udara pada akhir Februari yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran. Serangan tersebut memicu respons militer besar-besaran dari Teheran.

Iran melancarkan lebih dari 100 gelombang serangan balasan ke target strategis milik AS dan Israel. Serangan itu memperluas eskalasi konflik di kawasan.

Selain itu, Iran juga mengambil langkah strategis dengan membatasi akses kapal tertentu di Selat Hormuz. Kebijakan itu memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi.

Diplomasi Masih Berjalan, Tapi Penuh Hambatan

Meski tensi tinggi, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Seorang analis militer, Alexandru Hudisteanu, menilai konflik masih bisa dicegah. “Negosiasi tetap berjalan di balik layar melalui jalur resmi,” jelasnya.

Namun, ia menegaskan proses tersebut sangat kompleks. Banyak hambatan yang membuat kesepakatan sulit tercapai. Mostafa Koshcheshm menyebut Iran menawarkan proposal baru yang lebih fleksibel.

Strategi Baru Iran, Ubah Urutan Prioritas Negosiasi

Dalam proposal terbaru, Iran mengubah pendekatan diplomasi. Mereka tidak lagi menempatkan isu nuklir sebagai prioritas utama.

Sebaliknya, fokus utama kini adalah penghentian konflik dan pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Langkah itu menunjukkan upaya Iran untuk tampil lebih fleksibel di mata dunia. Namun, perbedaan kepentingan dengan AS masih menjadi penghalang utama.

Ketegangan di Selat Hormuz tidak hanya berdampak regional. Jalur itu menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Gangguan kecil saja bisa memicu lonjakan harga minyak global. Dampaknya langsung terasa hingga ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Untuk itu, banyak negara mendorong penyelesaian damai. Mereka khawatir konflik itu berubah menjadi perang terbuka yang lebih luas.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI