Jakarta (Lampost.co) — Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui jalan buntu. Upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah belum menghasilkan titik temu.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyampaikan langsung hasil tersebut kepada publik. Ia menegaskan diskusi berjalan intens, tetapi belum membuahkan kesepakatan.
“Kami melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran. Kabar buruknya, kami belum mencapai kesepakatan,” kata Vance dalam konferensi pers.
Ia menilai kondisi itu lebih merugikan Iran daripada Amerika Serikat. Menurutnya, Washington menawarkan solusi terbaik dalam negosiasi tersebut.
AS Klaim Tawarkan Proposal Terbaik
Vance menjelaskan delegasi AS datang dengan sikap fleksibel dan itikad baik. Ia bahkan menyebut proposalnya sebagai penawaran terakhir. “Kami meninggalkan tempat itu dengan sebuah proposal yang sangat sederhana,” ujarnya.
Presiden Donald Trump juga ikut memantau langsung proses negosiasi. Vance mengaku berkomunikasi dengan Trump belasan kali selama 21 jam pembicaraan. Salah satu fokus utama Washington adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, baik sekarang maupun di masa depan.
Iran Minta AS Hentikan Tuntutan Berlebihan
Di sisi lain, Iran memberikan respons yang berbeda. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, menyebut pembicaraan berlangsung intens. Namun, ia menekankan hasil negosiasi bergantung pada keseriusan kedua pihak.
Baqaei meminta AS menghentikan tuntutan yang berlebihan. Ia juga menegaskan pentingnya menghormati hak dan kepentingan Iran.
5 Isu Besar yang Menghambat Kesepakatan
Berikut lima faktor utama yang membuat negosiasi AS dan Iran gagal mencapai titik temu:
-
Konflik Lebanon dan Peran Hizbullah
Konflik di Lebanon menjadi batu sandungan utama. Serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah memicu ketegangan baru.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan dukungan penuh kepada Lebanon. “Kelanjutan tindakan itu membuat perundingan tidak bermakna,” tulisnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menolak gencatan senjata terkait Hizbullah.
-
Sengketa Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi isu sensitif berikutnya. Jalur itu sangat penting bagi distribusi minyak global. AS menilai Iran tidak memberikan akses yang aman bagi kapal tanker. Trump bahkan menuduh Iran bertindak tidak profesional.
Di sisi lain, Iran mengklaim wilayah tersebut sebagai kedaulatan mereka. Teheran juga menyiapkan aturan baru untuk mengontrol lalu lintas kapal. Situasi itu membuat ratusan kapal dan ribuan pelaut tertahan di kawasan Teluk.
-
Program Nuklir Iran
Program nuklir tetap menjadi inti konflik. AS ingin Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium. Namun, Iran menolak tuntutan tersebut. Mereka mengklaim program nuklir hanya untuk tujuan damai.
Sebagai penandatangan perjanjian non-proliferasi, Iran merasa memiliki hak mengembangkan energi nuklir sipil. Perbedaan pandangan itu membuat negosiasi semakin sulit.
-
Jaringan Sekutu Iran di Timur Tengah
Iran memiliki jaringan sekutu kuat di kawasan Timur Tengah. Kelompok seperti Hizbullah, Houthi, dan Hamas menjadi bagian dari strategi geopolitik mereka.
AS dan Israel melihat jaringan itu sebagai ancaman serius. Mereka menuntut Iran mengurangi dukungan terhadap kelompok tersebut. Namun, hingga kini, tidak ada tanda Iran akan melepaskan pengaruhnya di kawasan.
-
Tuntutan Pencabutan Sanksi
Isu terakhir adalah sanksi ekonomi. Iran meminta pencabutan sanksi sebagai syarat utama kesepakatan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, menuntut pencairan aset senilai US$120 miliar. Namun, belum ada kepastian apakah AS bersedia memenuhi tuntutan tersebut.
Kegagalan itu menjadi kemunduran bagi kedua pihak. Meski sempat ada gencatan senjata, konflik belum menunjukkan tanda berakhir. Perbedaan kepentingan yang kompleks membuat kesepakatan sulit tercapai dalam waktu dekat.








