Teheran (Lampost.co) – Pemerintah Iran menaikkan tensi konflik dengan ancaman militer terbuka. Pejabat tinggi menyatakan siap kembali berperang jika pelanggaran gencatan senjata terus terjadi.
Pernyataan itu muncul setelah Israel melancarkan serangan udara besar ke Lebanon, hanya beberapa jam setelah kesepakatan damai diumumkan. Media pemerintah melaporkan, Iran menyiapkan langkah pertahanan penuh jika situasi tidak segera mereda.
Serangan udara Israel mengguncang sejumlah wilayah strategis di Lebanon. Dalam waktu singkat, ratusan warga menjadi korban.
Otoritas setempat melaporkan lebih dari 250 orang tewas akibat serangan tersebut. Angka itu menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak konflik memanas.
Gelombang serangan itu juga memperlihatkan eskalasi militer yang sulit terkendali, meski kesepakatan gencatan senjata baru saja berlaku.
Gencatan Senjata Diperdebatkan, Lebanon Jadi Titik Konflik
Perbedaan tafsir soal wilayah gencatan senjata menjadi sumber ketegangan baru. Iran menegaskan kesepakatan dengan Amerika Serikat harus mencakup Lebanon.
Pandangan itu mendapat dukungan Shehbaz Sharif sebagai mediator. Ia menyatakan gencatan senjata berlaku di seluruh wilayah konflik, termasuk Lebanon.
Namun, Israel tetap melanjutkan operasi militernya. Hal itu memicu kemarahan Teheran dan memperbesar risiko konflik regional.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz Kembali Muncul
Iran juga mengeluarkan kartu tekanan lain, yaitu ancaman menutup Selat Hormuz. Jalur itu menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.
Pejabat Iran menyebut penutupan bisa berlanjut jika agresi terus berlangsung. Langkah itu berpotensi mengguncang pasar global, terutama sektor minyak dan gas. Selain itu, Iran meminta negara-negara mediator segera bertindak untuk menghentikan serangan Israel.
Kepercayaan Iran ke AS Menurun Tajam
Ketegangan semakin meningkat setelah parlemen Iran meragukan komitmen Amerika Serikat. Juru bicara parlemen, Mohammad Baqer Qalibaf, menilai pelanggaran terjadi sejak hari pertama gencatan.
Ia menyoroti tiga hal utama. Pertama, serangan Israel ke Lebanon. Kedua, dugaan drone yang masuk wilayah Iran. Ketiga, penolakan hak pengayaan uranium Iran. “Dalam situasi seperti itu, gencatan senjata bilateral atau perundingan tidak bisa dilakukan,” ujarnya.
Diplomasi Tetap Berjalan di Tengah Ketegangan
Meski konflik meningkat, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Iran dan Amerika Serikat tetap berencana melanjutkan pembicaraan damai.
Pertemuan rencananya berlangsung di Islamabad pada 10 April 2026. Agenda utama mencakup penyelesaian konflik dan pembahasan syarat damai jangka panjang.
Namun, situasi di lapangan menunjukkan tantangan besar. Setiap serangan baru berpotensi menggagalkan proses diplomasi.
Perkembangan terbaru menunjukkan Timur Tengah berada di titik kritis. Gencatan senjata yang diharapkan meredakan konflik justru menghadapi ujian berat.
Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya tidak hanya terasa di kawasan, tetapi juga dunia. Jalur energi, stabilitas politik, dan keamanan global kini berada dalam tekanan.








