Jakarta (Lampost.co) – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran dikabarkan menutup kembali Selat Hormuz pada Rabu (8/4/2026). Langkah itu muncul setelah serangan Israel ke wilayah Lebanon. Keputusan tersebut langsung mengguncang stabilitas kawasan. Jalur vital pengiriman energi dunia kembali terancam terganggu.
Penutupan Selat Hormuz terjadi di tengah kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat. Gedung Putih mendesak agar jalur pelayaran segera buka kembali.
Washington ingin menjaga proses negosiasi tetap berjalan. Namun, situasi di lapangan menunjukkan hal berbeda. Serangan drone dan rudal masih terjadi di sejumlah wilayah.
Juru bicara Wakil Presiden AS menyebut kesepakatan tersebut sangat rapuh. Risiko kegagalan kini semakin besar.
Iran Tuduh AS Langgar Kesepakatan
Teheran menilai Washington melanggar sejumlah poin penting dalam perjanjian.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut rencana dialog menjadi tidak relevan. Ia menyoroti beberapa pelanggaran utama:
- Serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon
- Dugaan pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone AS
- Penolakan terhadap hak pengayaan uranium Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan konflik di Lebanon seharusnya masuk dalam kesepakatan damai. Namun, pernyataan itu bertolak belakang dengan sikap Benjamin Netanyahu dan Donald Trump. Keduanya menyebut gencatan senjata tidak berlaku di Lebanon.
Peran Pakistan dan Perbedaan Tafsir
Pakistan sebagai mediator menyatakan kesepakatan berlaku di seluruh wilayah konflik. Perbedaan tafsir itu memperkeruh situasi. Ketidakjelasan aturan membuat ketegangan semakin meningkat.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan ini.
Penutupan jalur itu langsung berdampak pada perdagangan energi. Hanya sedikit kapal yang berhasil melintas.
Beberapa kapal bahkan harus membayar biaya tambahan untuk tetap berlayar. Kebijakan itu ditolak keras Amerika Serikat.
Serangan Israel Picu Eskalasi
Israel meningkatkan operasi militernya terhadap Hizbullah. Serangan menyasar lebih dari 100 titik dalam waktu singkat.
Korban jiwa terus bertambah. Laporan menyebut ratusan orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka.
Sekjen Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, menilai Israel berupaya menggagalkan perdamaian. Meski ada pembicaraan damai, isu nuklir Iran tetap menjadi perhatian utama.
Trump menyatakan AS ingin menghapus uranium yang telah diperkaya. Namun, Iran belum memberikan konfirmasi. Di sisi lain, militer Israel menegaskan akan terus menyerang.
Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran global. Pasokan energi dunia terancam terganggu. Pasar keuangan mulai merespons situasi tersebut. Harga minyak berpotensi kembali melonjak. Ketegangan yang terus meningkat membuat masa depan gencatan senjata tidak pasti.







