Bandar Lampung (Lampost.co) — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menyampaikan keadaan ketenagakerjaan di Lampung bulan November 2025. Tercatat, ada 211,70 ribu orang menganggur pada periode tersebut.
Hal tersebut disampaikan dalam rilis berita resmi statistik, Kamis, 5 Februari 2026. Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution mengatakan tingkat pengangguran turun ke level 4,14 persen di tengah penguatan sektor informal.
Jumlah penduduk usia kerja di Provinsi Lampung pada November 2025 tercatat sebanyak 7,22 juta orang, meningkat 24,17 ribu orang (0,34%) dari pada Agustus 2025.
Sejalan dengan kenaikan tersebut, daya serap pasar kerja juga menguat dengan adanya tambahan 45,01 ribu orang yang bekerja. Dengan demikian, total penduduk yang bekerja saat ini mencapai 4,90 juta orang.
“Di sisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Lampung pada November 2025 berada pada level 4,14 persen, atau sebanyak 211,70 ribu orang,” katanya.
Baca Juga:
Ekonomi Lampung Tumbuh 5,28 Persen, Tertinggi Ketiga di Sumatera
Angka ini menunjukkan keberhasilan dalam menekan jumlah pengangguran sebanyak 1,47 ribu orang dari pada periode sebelumnya. Namun terdapat catatan mengenai disparitas wilayah dan gender.
TPT di wilayah perkotaan masih jauh lebih tinggi sebesar 6,03 persen dari pada wilayah pedesaan yang hanya 2,97 persen.
Dan angka pengangguran perempuan tercatat sebesar 4,86 persen, lebih tinggi dari pada laki-laki yang sebesar 3,70 persen.
Secara umum, TPAK Lampung mengalami kenaikan dari 70,44 persen pada Agustus 2025 menjadi 70,81 persen pada November 2025. Menariknya, kenaikan ini didorong oleh peningkatan partisipasi perempuan yang naik menjadi 54,87 persen (sebelumnya 53,85%).
“Sebaliknya, TPAK laki-laki justru mengalami sedikit penurunan menjadi 86,15 persen dari sebelumnya 86,40%,” katanya.
Sektor Informal
BPS Provinsi Lampung mencatat, struktur lapangan kerja di Lampung masih didominasi oleh kegiatan di sektor informal. Proporsi pekerja informal meningkat menjadi 65,81 persen, sementara pekerja formal turun menjadi 34,19 persen.
Kenaikan sektor informal ini didorong oleh lonjakan status pekerjaan “Pekerja Bebas di Pertanian” yang bertambah signifikan sebanyak 56,84 ribu orang.
Lapangan usaha pertanian, perdagangan, industri pengolahan, serta penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi motor utama penyerapan tenaga kerja.
Sektor konstruksi serta pengadaan listrik dan gas juga turut memberikan kontribusi positif.
Dari sisi kualitas pendidikan, terdapat tren peningkatan partisipasi lulusan Perguruan Tinggi (Diploma ke atas) yang kini mencapai 11,24 persen (550,73 ribu orang).
Meski demikian, mayoritas penduduk bekerja masih didominasi oleh lulusan SD ke bawah sebesar 32,98 persen.








