Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah pusat memastikan pembangunan 36 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) segera direalisasikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di Provinsi Lampung.
Kepastian tersebut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Otonomi Daerah (Ditjen Otda) Kementerian Dalam Negeri, Indra Gunawan. Ia menegaskan, pembangunan fasilitas dapur SPPG merupakan upaya memperluas jangkauan layanan MBG hingga ke pelosok.
“Kami ingin memastikan bahwa penerima manfaat MBG tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan. Anak-anak di desa terpencil juga harus memperoleh layanan gizi yang layak melalui dapur SPPG,” ujar Indra beberapa hari lalu.
Baca Juga:
Kemendagri Dorong SPPG Lampung Selesaikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
Indra menjelaskan, pemerintah kabupaten telah mengajukan usulan titik lokasi pembangunan dapur. Lengkap dengan koordinat wilayah 3T yang membutuhkan dukungan paling mendesak. Hasilnya, sebanyak 36 titik telah disetujui dan siap masuk tahap pengerjaan.
“Semua usulan sudah kami terima dan verifikasi. Ada 36 dapur SPPG yang akan dibangun di lima kabupaten, dan masing-masing sudah disiapkan investornya,” jelasnya.
Adapun lima kabupaten penerima fasilitas dapur SPPG tersebut yakni Pesisir Barat, Pesawaran, Lampung Selatan, Tulangbawang, dan Tanggamus.
Pulau Terpencil
Indra menambahkan, beberapa dapur SPPG bahkan berlokasi di pulau-pulau terpencil. Sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam distribusi logistik MBG.
“Di Lampung Selatan ada yang berada di pulau terluar. Pesawaran dan Tanggamus juga memiliki satu desa di wilayah kepulauan. Sementara di Tulangbawang, ada Desa Sungai Burung yang aksesnya harus melalui jalur air,” katanya.
Badan Gizi Nasional telah menerbitkan petunjuk teknis yang menjadi acuan dalam proses pembangunan, mulai dari standar bangunan hingga skema pembiayaan.
Para investor yang telah terdaftar dalam sistem akan bertanggung jawab terhadap pembangunan hingga distribusi makanan MBG.
“Transportasi MBG menggunakan kapal atau moda lain menjadi bagian dari perhitungan investor. Mereka tentu sudah menyiapkan biaya operasional secara matang,” ujar Indra.






