Beban Pengeluaran Petani Meningkat Dampak NTP Turun

Kenaikan pengeluaran petani terutama didorong oleh meningkatnya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,17 persen.

Editor Ricky Marly, Penulis Nur
Rabu, 06 Mei 2026 17.27 WIB
Beban Pengeluaran Petani Meningkat Dampak NTP Turun
Rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung. (dok.)

Bandar Lampung (Lampost.co) — Kesejahteraan petani di Provinsi Lampung pada April 2026 mengalami tekanan. Hal ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang tercatat sebesar 123,93 atau turun 0,80 persen dari pada bulan sebelumnya.

Penurunan ini menunjukkan bahwa kemampuan tukar hasil produksi petani terhadap barang dan jasa yang mereka konsumsi maupun untuk biaya produksi mengalami pelemahan.

Kepala BPS Lampung, Ahmad Riswan Nasution, mengatakan penurunan NTP tersebut dipicu oleh turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,49 persen.

Di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru mengalami kenaikan sebesar 0,31 persen. Kondisi ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan, di mana pendapatan petani menurun sementara pengeluaran meningkat.

Kenaikan pengeluaran petani terutama didorong oleh meningkatnya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,17 persen.

“Lonjakan ini sebagian besar berasal dari sektor transportasi, yang menjadi salah satu komponen penting dalam aktivitas ekonomi rumah tangga petani. Termasuk distribusi hasil pertanian,” ungkap Riswan dalam keterangan tertulisnya.

Baca Juga:

Tingkat Pengangguran di Lampung Turun pada Februari 2026

Subsektor

Secara sektoral, kinerja NTP di Lampung menunjukkan variasi yang cukup signifikan. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-Pr) mencatatkan angka tertinggi sebesar 152,98. Capaian ini mengindikasikan bahwa petani di subsektor perkebunan masih menikmati surplus yang cukup baik.

Sementara itu, subsektor Perikanan Tangkap mencatatkan NTP sebesar 118,75, disusul Hortikultura sebesar 117,08, dan Tanaman Pangan sebesar 106,29. Meskipun masih berada di atas angka 100 yang menandakan surplus, ketiga subsektor ini tetap perlu mewaspadai tekanan biaya yang terus meningkat.

Berbeda dengan subsektor lainnya, Peternakan dan Perikanan Budidaya justru menunjukkan kondisi yang kurang menguntungkan.

NTP Peternakan tercatat sebesar 99,97, sedangkan Perikanan Budidaya sebesar 98,67. Angka di bawah 100 ini mengindikasikan bahwa pendapatan yang diterima petani di kedua subsektor tersebut lebih rendah dari pada pengeluaran mereka, sehingga mengalami defisit.

Sejalan dengan penurunan NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga mengalami kontraksi sebesar 1,12 persen. Penurunan NTUP ini semakin menegaskan adanya tekanan pada sisi usaha pertanian, baik dari sisi produksi maupun biaya operasional.

Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemangku kebijakan untuk segera mengambil langkah strategis dalam menjaga stabilitas harga hasil pertanian sekaligus mengendalikan biaya produksi.

Tanpa intervensi yang tepat, tekanan terhadap kesejahteraan petani dikhawatirkan akan terus berlanjut, terutama di tengah meningkatnya biaya hidup dan distribusi.

Dengan dinamika tersebut, perlu upaya bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani untuk memperkuat ketahanan sektor pertanian di Lampung. Upaya ini agar tetap mampu menjadi penopang utama perekonomian daerah sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakatnya.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI