Bandar Lampung (Lampost.co) — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat ekspor Lampung mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 34,46 persen. Ini secara tahunan (year on year) pada semester pertama 2025. Nilai ekspor Lampung mencapai 3.047,49 juta USD pada periode ini.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lampung, Evie Fatmawaty mengungkapkan. Crude Palm Oil (CPO) dan Batubara merupakan komoditas yang menjadi kekuatan ekspor Lampung.
“Saat ini Komoditas yang menjadi kekuatan Provinsi Lampung bagi dunia adalah CPO dan Batubara,” ujarnya, Senin, 4 Agustus 2025.
Kemudian peluang ekspor komoditas tersebut masih sangat besar. Sehingga perlu tereksekusi secara optimal. Mengingat tingginya kebutuhan komoditas itu bagi berbagai industri.
“Saat ini, Kementerian ESDM juga sedang mengkaji energi masa depan yang bisa didapatkan dari hilirisasi produk-produk tersebut,” katanya.
Selanjutnya Evie menambahkan, selain fokus pada dua komoditas tersebut. Pemprov Lampung juga berkomitmen untuk menjaga tren positif ekspor. Melalui koordinasi lintas instansi dalam menjaga ketersediaan stok barang dari berbagai komoditas potensial ekspor lainnya.
“Menjaga ketersediaan stok ini penting, apalagi untuk komoditas pertanian dan perkebunan yang bergantung pada musim dan bibit. Termasuk menjaga kepastian kesejahteraan petani agar tidak alih lahan,” katanya.
Kemudian perluasan pasar ekspor melalui keterlibatan aktif dalam ajang promosi luar negeri juga terperkuat. Digitalisasi saat ini turut mendorong para pelaku ekspor untuk mempromosikan produknya. Sehingga membuka kesempatan pasar yang lebih luas secara efisien.
Lalu pihaknya memberikan fasilitasi bagi para pelaku ekspor untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas produk agar daya saing menguat. “Kita bantu carikan buyer melalui pameran luar negeri, business matching, serta e-commerce kita dampingi pemasarannya,” tuturnya.
Selanjutnya Evie menambahkan, menjaga tren positif ekspor Lampung juga penuh tantangan. Seperti kendala kurangnya ketersediaan kapal dan keterbatasan pelabuhan Panjang dalam mengimpor barang yang dibutuhkan untuk ekspor.
“Kami sedang koordinasi dalam menetapkan Pelabuhan Panjang agar tidak terbatas mengimpor produk tertentu saja. Sehingga ini juga bisa menambah kesediaan kapal yang datang,” katanya.