Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemprov Lampung menegaskan komitmennya membangun ekonomi daerah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan sebagai bagian dari visi besarnya.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal. Ia menjelaskan bahwa arah pembangunan Lampung hingga 2029 bertumpu pada tiga misi utama. Pertama, mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, mandiri, dan inovatif.
Selain itu, memperkuat sumber daya manusia yang unggul dan produktif. Serta meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat melalui tata kelola pemerintahan yang beradab, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang inklusif menjadi kunci agar seluruh potensi Lampung dapat bergerak bersama. Selama ini, ekosistem ekonomi daerah dinilai masih berjalan parsial. Di mana sektor pertanian, industri, dan dunia usaha belum terhubung secara optimal.
“Banyak sektor selama ini berjalan sendiri-sendiri. Ketika tidak terhubung dan tidak inklusif, dorongan pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas. Pemerintah harus hadir sebagai perajut agar seluruh ekosistem ekonomi dapat tumbuh bersama,” ujar Mirza.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat daya saing daerah.
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan sektor industri, peningkatan produktivitas petani, serta pembangunan kualitas sumber daya manusia. Upaya ini agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi dan teknologi.
Selain isu ekonomi, Gubernur Mirza juga menyoroti capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung yang masih berada di peringkat terbawah di Sumatera dan peringkat ke-26 secara nasional.
Kondisi ini dinilai ironis mengingat Lampung memiliki posisi geografis strategis, infrastruktur yang relatif memadai, serta akses teknologi yang cukup baik.
“Ini menjadi refleksi bahwa pembangunan sebelumnya belum sepenuhnya inklusif. Ke depan, penguatan SDM harus menjadi prioritas agar pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Capai Rp483 Triliun
Gubernur Mirza juga memaparkan potensi besar perekonomian Lampung. Pada 2024, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung tercatat mencapai Rp483 triliun.
Namun, sekitar 26 persen atau Rp130 triliun masih berasal dari bahan mentah sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Sementara kontribusi sektor industri baru sekitar 18 persen atau Rp90 triliun.
Dari nilai Rp130 triliun sektor pertanian tersebut, baru sekitar 40 persen yang diolah di dalam daerah. Artinya, masih terdapat potensi lebih dari Rp70 triliun hingga Rp100 triliun yang keluar dari Lampung dalam bentuk bahan mentah tanpa nilai tambah.
“Kita ingin komoditas Lampung diolah di Lampung. Kopi, jagung, padi, singkong, dan komoditas lainnya harus memberi nilai tambah bagi petani dan masyarakat kita,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Lampung meluncurkan program Desaku Maju untuk mendorong ekonomi inklusif berbasis desa.
Program ini fokus pada pengolahan hasil pertanian langsung dari desa melalui penyediaan mesin pengering (dryer), pupuk organik cair, pelatihan vokasi, serta penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Melalui program ini, komoditas unggulan seperti jagung, padi, singkong, kopi, dan kakao akan dikeringkan dan diolah di desa sebelum dipasarkan. Sehingga nilai tambah ekonomi dapat dinikmati langsung oleh masyarakat desa,” katanya.








