Bandar Lampung (lampost.co)–Provinsi Lampung secara resmi sebagai pusat pengembangan ubi kayu nasional. Daerah itu akan menjadi motor penggerak riset dan hilirisasi singkong di Tanah Air. Penunjukan tersebut langkah strategis pemerintah pusat untuk menjadikan Lampung sebagai basis inovasi komoditas ubi kayu. Tujuannya untuk memperkuat kedaulatan pangan dan industri berbasis pertanian.
Melalui skema kolaborasi Bappenas, proyek sentra singkong ini akan memfokuskan kegiatannya pada modernisasi sektor hulu. Target krusial dari inisiatif ini adalah memacu produktivitas lahan petani lokal agar mampu sejajar, bahkan melampaui capaian produksi kompetitor seperti Vietnam dan Thailand.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengungkapkan bahwa prioritas utama dalam cassava center adalah menciptakan varietas bibit unggul dengan karakteristik khusus. Bibit hasil riset ini nantinya akan didesain untuk memiliki kadar pati atau aci yang jauh lebih tinggi, sehingga nilai jual hasil panen petani meningkat secara signifikan.
“Lampung akan menjadi jantung riset singkong nasional. Kami bekerja sama dengan Bappenas dan berbagai pakar untuk memastikan teknologi pertanian kita tidak lagi tertinggal. Fokus kami petani bisa memanen lebih banyak dengan kualitas aci yang lebih baik,” jelas Mirza di Bandar Lampung, Rabu, 28 Januari 2026.
Program itu melibatkan sinergi lintas disiplin dengan merangkul jajaran profesor, peneliti, dan pengajar dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia. Universitas Lampung sebagai markas utama kegiatan riset ini, sementara infrastruktur penunjang seperti laboratorium canggih pembangunannya di kawasan Kota Baru.
“Proses pembangunan fisik segera dieksekusi, namun operasional program akan mulai lebih awal dengan mendayagunakan fasilitas laboratorium yang sudah tersedia di Unila,” tambah Mirza.
Ekosistem Tapioka
Visi jangka panjang dari program ini adalah terciptanya ekosistem industri singkong yang terintegrasi dari tahap penanaman hingga proses pengolahan akhir. Dengan bibit berkualitas tinggi, efisiensi di tingkat pabrik tapioka diharapkan meningkat drastis sehingga harga jual produk turunan singkong asal Lampung mampu berkompetisi secara harga di level internasional.
“Kenaikan kadar aci adalah kunci. Jika bahan bakunya unggul, pendapatan petani otomatis naik dan harga tapioka kita bisa bersaing ketat dengan Thailand maupun Vietnam. Kami ingin industri tapioka Lampung menjadi pemain utama di pasar dunia,” pungkasnya. (ANT)








