Bandar Lampung (Lampost.co) — Tren penggunaan kendaraan listrik, khususnya sepeda motor listrik mulai meningkat di Lampung.
Namun masyarakat umumnya masih mempertimbangkan dua hal utama sebelum membeli, yakni harga yang terjangkau dan keamanan baterai.
Ketua Komunitas Motor Listrik (Kosmik) Lampung, Andrie Panji Indra, mengatakan saat ini salah satu merek yang cukup banyak diminati masyarakat adalah Polytron. Hal tersebut karena harga motor listrik tersebut relatif setara dengan motor bensin kelas entry level seperti Honda Beat.
“Banyak yang memilih karena harganya mirip motor bensin, tapi baterainya menggunakan sistem sewa di dealer sehingga lebih aman. Kalau ada kerusakan baterai biasanya sudah termasuk garansi dari dealer,” ujar Andrie.
Menurutnya, penggunaan sepeda motor listrik kini mulai meluas di berbagai kalangan. Selain masyarakat umum, kendaraan ini juga mulai digunakan oleh pengemudi ojek online hingga tenaga pengajar untuk aktivitas harian.
Program penggunaan kendaraan listrik yang dilakukan oleh PT PLN juga turut mendorong minat masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan internal seperti program “Jumat Bersih” yang secara tidak langsung memperkenalkan penggunaan kendaraan listrik, baik mobil maupun motor kepada masyarakat.
Dari sisi infrastruktur, PLN juga mulai menyiapkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Saat ini setiap kantor Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN di Lampung sudah mulai disiapkan fasilitas pengisian untuk kendaraan listrik, baik untuk mobil maupun motor.
Mengingat jumlah ULP yang tersebar di hampir setiap kecamatan, keberadaan fasilitas tersebut harapannya dapat mendukung penggunaan kendaraan listrik secara lebih luas.
Namun untuk penggunaan jarak jauh, sepeda motor listrik masih memiliki keterbatasan. Pengguna biasanya harus menambah baterai cadangan atau menggunakan baterai tambahan agar jarak tempuh bisa mencapai 100 hingga 250 kilometer.
Lebih Hemat
Dari sisi biaya operasional, sepeda motor listrik jauh lebih hemat dari pada motor berbahan bakar bensin. Biaya pengisian listrik sekitar Rp4.000 per kWh, dengan jarak tempuh sekitar 10 hingga 20 kilometer.
Selain itu, biaya perawatan juga lebih murah karena motor listrik tidak memerlukan servis rutin seperti motor konvensional. Pajak kendaraan listrik juga relatif rendah sekitar Rp35 ribu per tahun.
“Komponen motor listrik juga jauh lebih sedikit. Kalau motor bensin bisa ribuan komponen, motor listrik hanya sekitar 200 komponen saja,” kata Andrie.
Komponen utama motor listrik sendiri hanya terdiri dari tiga bagian penting, yaitu baterai, controller, dan dinamo.
Meski memiliki banyak keunggulan, sepeda motor listrik juga memiliki kekurangan. Salah satunya adalah waktu pengisian daya yang masih cukup lama, yakni sekitar setengah jam hingga beberapa jam tergantung kapasitas baterai.
Saat ini harga motor listrik di pasaran berkisar antara Rp13 juta hingga Rp25 juta, tergantung merek dan kapasitas baterainya. Untuk jenis baterai, sepeda listrik umumnya menggunakan baterai SLA. Sedangkan motor listrik menggunakan baterai lithium yang lebih ringan dan memiliki daya tahan lebih baik.
Andrie berharap dengan semakin berkembangnya teknologi serta dukungan infrastruktur, penggunaan kendaraan listrik di Lampung akan terus meningkat di masa mendatang.









