Liwa (Lampost.co): Di tengah derasnya arus globalisasi, masyarakat Lampung Barat tetap menjaga tradisi Sekura Cakak Buah sebagai simbol identitas, kebersamaan, dan keberlanjutan budaya. Tradisi pesta topeng ini terlaksana setiap awal Syawal, menjadi penanda berakhirnya Ramadan sekaligus momentum mempererat silaturahim.
Suasana perayaan di Pekon Muara Jaya II, Kecamatan Kebun Tebu, berlangsung meriah. Para peserta mengenakan topeng dengan beragam karakter, menciptakan nuansa penuh kegembiraan sekaligus misteri. Di balik topeng, perbedaan status sosial dan latar belakang melebur dalam semangat kebersamaan.
Sekura bukan sekadar hiburan, melainkan ruang rekonsiliasi sosial yang sarat nilai. Tradisi ini menanamkan gotong royong, keberanian, serta kepercayaan diri. Selain itu, Sekura juga menjadi wadah ekspresi seni melalui beragam bentuk topeng yang mencerminkan kreativitas masyarakat.
Dalam praktiknya, terdapat dua jenis Sekura, yakni Sekura Kamak dan Sekura Betik. Sekura Kamak menggambarkan sifat buruk seperti angkara murka, sementara Sekura Betik melambangkan kebaikan. Keduanya merepresentasikan keseimbangan hidup antara nilai positif dan negatif.
Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, menilai keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan tradisi ini. Kaum muli mekhanai berperan aktif sebagai penggerak utama, menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki masa depan di tengah pengaruh modernisasi.
Ia juga melihat potensi Sekura sebagai daya tarik wisata budaya. Jika dikelola dengan baik, tradisi ini dapat menarik wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pengembangannya harus tetap menjaga keaslian dan nilai adat agar tidak tergerus komersialisasi.
Partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam pelestarian Sekura. Tradisi ini tidak hanya dijaga melalui perayaan tahunan, tetapi juga perlu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui pendidikan dan kegiatan kreatif.
Sekura Cakak Buah membuktikan bahwa budaya lokal dapat bertahan di tengah perubahan zaman. Selama generasi muda tetap peduli dan masyarakat terus terlibat, tradisi ini akan tetap hidup sebagai warisan berharga dan kebanggaan Lampung Barat. (ANT)








