Pangkep (lampost.co)–Upaya heroik tim SAR gabungan menembus medan ekstrem Pegunungan Bulusaraung membuahkan. Sebanyak dua jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 bisa terevakuasi. Petugas menuruni tebing curam untuk mengangkat jasad korban dari kedalaman jurang yang sangat mematikan.
Proses evakuasi ini menjadi salah satu operasi kemanusiaan tersulit karena tim harus berhadapan dengan angin kencang dan suhu dingin yang menggigit di ketinggian. Oleh karena itu, keberhasilan membawa keluar kedua jenazah tersebut merupakan pencapaian krusial sebelum tim melanjutkan pencarian terhadap korban lain yang masih tertimbun puing atau tersangkut di lereng gunung.
Danrem 141/Tompobulu, Brigjen TNI Clif Rumbayan, mengonfirmasi bahwa kedua jenazah kini telah diberangkatkan menuju Posko Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara Makassar. Langkah ini diambil agar proses identifikasi medis dapat segera dilakukan oleh tim Biddokes Polda Sulawesi Selatan guna kepastian identitas bagi pihak keluarga.
“Tepat pukul 20.30 Wita, kedua jenazah kami berangkatkan langsung ke Makassar untuk proses identifikasi lebih lanjut di RS Bhayangkara,” ujar Brigjen Clif dalam konferensi pers di Posko SAR AJU Tompobulu, Selasa malam, 20 Januari 2026.
Meskipun tim bekerja dengan semangat tinggi, cuaca buruk di wilayah pegunungan sempat menghentikan operasi selama beberapa jam. Hujan deras dan hempasan angin dengan kecepatan mencapai 25 knot memaksa tim penolong berhenti sejenak demi keselamatan personel. Namun, setelah cuaca sedikit mereda, petugas kembali berjibaku menarik jenazah dari kedalaman sekitar 350 hingga 400 meter di bawah tebing.
“Tim evakuasi bergerak sejak pukul 11.00 Wita. Namun baru pada pukul 17.15 Wita jasad kedua korban berhasil kami angkat sampai ke puncak gunung,” tambah Clif.
Jalur Darat
Selanjutnya, petugas membawa jenazah menempuh jalur darat yang terjal hingga mencapai Posko AJU di Desa Tompobulu pada dini hari. Setelah tiba di posko, Tim DVI Polda Sulsel langsung melakukan pelabelan dan pengamanan jasad sebelum menggunakan ambulans menuju Kota Makassar.
Berdasarkan laporan di lapangan, jenazah pertama berjenis kelamin laki-laki. Sementara jenazah kedua merupakan seorang perempuan. Jenazah kedua oleh tim rescuer dalam kondisi utuh dengan posisi tengkurap dan tersangkut di sebuah pohon di tepian tebing yang sangat curam.
“Kami menemukan korban kedua di lereng paling dalam pada kedalaman jurang kurang lebih 400 meter. Oleh sebab itu, teknik pengangkatan manual menggunakan tali menjadi pilihan utama mengingat helikopter tidak bisa mendekati dinding tebing,” pungkasnya.
Dengan demikian, operasi SAR kini difokuskan kembali pada penyisiran area lereng gunung yang belum terjangkau. Tim gabungan berharap sisa korban lainnya dapat segera ditemukan secepat mungkin sebelum kondisi cuaca di Pegunungan Bulusaraung kembali memburuk. (ANT)








