Aceh (Lampost.co)— Musibah banjir besar yang melanda Sumatra menyebabkan ratusan korban meninggal dan puluhan ribu warga mengungsi dan kerusakan infrastruktur yang luas di Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Pada umumnya setelah bencana banjir akan diikuti dengan berbagai penyakit.
Masyarakat yang sedang mengalami kebanjiran sebagian besar tinggal di pengungsian, mereka akan berisiko untuk terjadinya penurunan daya tahan tubuh.
“Kenapa hal ini terjadi? Mereka dalam kondisi stres akibat kehilangan harta benda, istirahat yang kurang dan makan minum ala kadarnya,” kata Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Ari F Syam, , Minggu (30/11).
Baca juga: Kayu Hanyut Banjir Bandang Sumatra Indikasi Pembalakan Liar
Kondisi itu akan menyebabkan daya tahan tubuh masyarakat menurun. Di satu sisi mereka akan terpapar dengan berbagai penyakit infeksi termasuk infeksi saluran pernafasan atas bahkan sampai terjadi infeksi paru sampai pneumonia.
Dampak Banjir
Selain itu, masyarakat yang terdampak banjir umumnya tinggal dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat.
Karena pascabanjir berisiko untuk terinfeksi oleh infeksi saluran pencernaan antara lain diare atau demam tifoid.
Faktor lainnya yakni kondisi lingkungan bekas banjir juga bisa menimbulkan berbagai infeksi tetanus dan leptospirosis.
“Infeksi tetanus terjadi jika masyarakat yang kebetulan sedang membersihkan lokasi pascabanjir dan tertusuk paku yang berpotensi masuknya bakteri clostridium tetani yang banyak menjumpai pada debu dan kotoran hewan,” ujarnya.
“Bakteri lebih mudah masuk melalui terinjak benda tajam. Kita masih ingat bahwa setelah Tsunami di Aceh dilaporkan banyak kasus masyarakat yang terinfeksi tetanus. Pasien tetanus biasanya terjadi setelah 4-21 hari setelah masuknya kuman ke dalam tubuh.Lalu mengalami kekakuan tangan, badan, tengkuk, dan terasa sakit. Pasien mengalami kaku kuduk,” sambungnya.
Selain penyakit tetanus penyakit yang perlu diantisipasi jika berhubungan dengan pembersihan lokasi banjir adalah penyakit leptospirosis. Penyakit ini sering kali muncul setelah banjir.
Penyakit Kotoran Tikus
Leptospirosis atau juga di kenal dengan penyakit demam kuning terjadi karena pasien tertular melalui paparan dengan kotoran tikus.
Orang dengan leptospirosis mengalami demam tinggi, menggigil, mual, muntah. Serta buang air kecil berwarna kuning. Karena infeksi menyerang liver maka sering menyebutnya hepatitis non virus.
“Yang menjadi masalah lain adalah komplikasi leptospirosis dapat menyebabkan terjadi gagal ginjal akut. Pankreatitis, meningitis dan perdarahan jika infeksi setelah berlangsung sistemis,” ucapnya.
Ari mengingatkan bahwa pascabencana banjir dampaknya masih terus berlanjut. Sehingga segera mungkin masyarakat yang sedang mengalami musibah banjir ini harus mendapat bantuan.
Mereka harus melengkapi dengan alat pelindung saat membersihkan bekas banjir. Misal dengan sepatu bot, masker, sarung tangan pelindung kepala dan mata.
Mengingat bakteri ini bisa masuk dari luka pada kaki dan tangan atau tertelan. Disinfektan juga harus menyalurkan kepada masyarakat yang akan membersihkan lokasi pasca banjir.
“Untuk para pengungsi harus terjaga bahwa para pengungsi tetap harus kita jaga makan dan minumnya. Selimut dan alas tidur yang memadai dan berbagai fasilitas protokol Kesehatan seperti, masker dan sabun atau hand sanitizer untuk menekan penularan infeksi,” pungkasnya.







