PSSI terus bergerak cepat dalam mempersiapkan Timnas Indonesia menghadapi Kualifikasi Piala Dunia 2026, salah satunya mengajukan sejumlah nama pemain diaspora untuk dinaturalisasi.
Jakarta (Lampost.co) — Langkah strategis terus PSSI lakukan dalam upaya memperkuat Timnas Indonesia. Beberapa nama baru pemain diaspora yang akan menjalani naturalisasi diajukan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, saat bertemu Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas.
Menurut Erick, proyeksinya nama baru pemain tersebut akan memperkuat skuad Garuda menghadapi lawan-lawan berat di fase berikutnya. Meski belum mengumumkan nama baru pemain secara resmi, Erick memastikan proses ini sudah berjalan.
“Kami menyampaikan beberapa nama baru pemain dan mengonsultasikan proses pengambilan sumpah WNI,” ujar Erick Thohir melalui akun Instagram pribadinya, Senin, 4 Agustus 2025.
Langkah naturalisasi ini penting sebagai bagian dari penguatan fondasi Timnas Indonesia yang terus berbenah. Selain itu, PSSI juga bakal merampungkan regulasi dan kompetisi nasional.
Sejumlah sumber menginformasikan yang masuk radar naturalisasi Timnas Indonesia ada tiga nama baru pemain. Nama baru pemain yang memiliki keturunan Indonesia yang masuk bidikan, yakni Mauro Zijlstra, Miliano Jonathans, dan Jairo Riedewald.
Dengan kualitas mumpuni, tiga nama pemain baru itu layak memperkuat timnas. PSSI berharap proses naturalisasi nama baru pemain tersebut bisa berjalan lancar. Hal itu agar mereka bisa segera tampil di laga-laga penting.
Putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 akan menjadi tantangan berat bagi Timnas Indonesia. Lawan-lawan lebih tangguh dari fase sebelumnya. Karena itu, pelatih Patrick Kluivert membutuhkan pemain yang siap secara teknis dan mental bertanding di level tertinggi.
Penambahan pemain diaspora sebagai solusi jangka pendek dan menengah. PSSI juga berharap kehadiran para pemain yang merumput di Eropa bisa menjadi ajang pembelajaran bagi para pemain muda.
Selain itu, Erick juga melaporkan perkembangan pembaruan statuta PSSI, khususnya sistem liga di Indonesia. Menurutnya, Liga 4 akan berjalan di tingkat kabupaten dan kota dengan format piala bupati/wali kota.
Sementara itu, Liga 3 akan berlangsung di tingkat provinsi dengan nama piala gubernur. Sedangkan pada level nasional, akan ada Piala Presiden sebagai puncak kompetisi sepak bola amatir di Indonesia.
“Tujuan pembaruan sistem ini adalah untuk memperkuat akar kompetisi sepak bola nasional,” ujar Erick.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update