Bandar Lampung (Lampost.co): Akademisi FKIP Unila Dr. Fitriadi menyampaikan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) siswa sekolah dasar di Lampung masih berada pada kategori rendah, yakni 49 persen. Penelitian yang melibatkan 44 SD di Kota Bandar Lampung dan Metro menunjukkan capaian tersebut.
Fitriadi menyayangkan kondisi itu karena paradigma pendidikan abad ke-21 menuntut transformasi mendasar dalam proses pembelajaran di sekolah dasar.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digital, dan kompleksitas kehidupan sosial menuntut peserta didik tidak hanya menguasai kompetensi dasar, tetapi juga membangun Higher Order Thinking Skills sebagai fondasi untuk menghadapi persoalan baru yang bersifat dinamis dan tidak terstruktur.
“Kompetensi berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta kemampuan memecahkan masalah menjadi prasyarat utama agar peserta didik mampu berpartisipasi secara efektif dalam ekosistem global yang kompetitif,” ujar Fitriadi saat menjalani sidang promosi doktoral di FKIP Unila, Rabu, 17 Desember 2025.
Dalam konteks tersebut, Fitriadi menilai sekolah dasar perlu menerapkan pembelajaran aktif, kontekstual, dan berbasis pengalaman sejak dini.
Ia menjelaskan perkembangan pendidikan di Indonesia menuntut model pembelajaran yang mampu menumbuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Project-Based Learning (PjBL) yang berakar pada teori konstruktivisme menawarkan pembelajaran berbasis pengalaman, kolaborasi, dan pemecahan masalah nyata.
“Namun, sekolah dasar masih menghadapi kendala dalam pelaksanaan PjBL, seperti budaya belajar yang berpusat pada guru, refleksi yang dangkal, kolaborasi yang belum merata, serta asesmen yang belum mengukur HOTS secara memadai,” katanya.
Belum Siap
Fitriadi menilai kondisi tersebut muncul karena tenaga pengajar belum siap merancang pembelajaran berbasis HOTS. Padahal kurikulum 2013 maupun kurikulum merdeka telah menegaskan HOTS sebagai target utama pembelajaran.
“Pra-penelitian pada 44 sekolah menunjukkan guru belum siap merancang pembelajaran HOTS,” jelasnya.
Ia menambahkan guru cenderung mengandalkan metode ceramah, latihan soal, dan penugasan linear. Pola tersebut membatasi kesempatan siswa untuk menjalani proses berpikir mendalam melalui eksplorasi, diskusi kelompok, investigasi, dan refleksi. Pembelajaran yang tidak memberi ruang pengalaman autentik akan melahirkan pemahaman yang dangkal dan terfragmentasi.








