Bandar Lampung (Lampost.co) — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadhan memicu sorotan masyarakat sejumlah wilayah.
Banyak orang tua menilai menu yang dibagikan belum memenuhi standar gizi untuk kebutuhan anak sekolah.
Ketua Satgas MBG Provinsi Lampung, Saipul, membenarkan pihaknya menerima berbagai laporan dan masukan terkait kualitas makanan.
Ia menegaskan petunjuk teknis program sebenarnya sudah mengatur jenis makanan yang boleh diberikan, termasuk kategori semi basah.
“Juknis sudah jelas. Makanan boleh semi basah seperti tempe goreng, kering tempe, pisang, susu, atau bubur kacang hijau. Model seperti itu boleh, asalkan aman sampai waktu berbuka puasa,” kata Saipul.
Saipul mengakui pelaksanaan program masih menghadapi kendala lapangan, terutama soal distribusi. Ia menyebut sejumlah oknum penyedia tidak menjalankan ketentuan sesuai aturan.
“Contohnya telur. Secara teori, telur matang tahan dari malam sampai sore. Tapi ada yang kirim telur mentah supaya lebih awet. Cara itu memang bikin tahan lama, tapi berisiko pecah saat anak-anak terima,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tantangan ketersediaan serta harga bahan pangan kering dari pemasok. Menurutnya, anggaran program terlihat cukup, tetapi pemenuhan nilai gizi tetap menjadi pekerjaan rumah.
“Kalau hitung-hitungan anggaran sebenarnya cukup. Roti satu bungkus sekitar Rp4.000 sampai Rp5.000, serta susu dan telur, totalnya bisa Rp5.000 sampai Rp10.000. Tapi dari sisi nilai gizi, itu yang banyak masyarakat protes, dan kami akui,” ujarnya.
Saipul menjelaskan anggaran MBG rata-rata Rp10.000 per anak setiap hari. Penyedia makanan mengatur pola belanja agar tetap sesuai rata-rata tersebut.
“Ada hari tertentu biayanya bisa tembus Rp12.000 atau Rp14.000. Maka hari berikutnya harus ditekan agar rata-ratanya tetap Rp10.000. Pola itu masing-masing penyedia yang atur,” tambahnya.
Meski memahami berbagai tantangan teknis, Saipul menegaskan Satgas tidak mentoleransi kelalaian yang membahayakan siswa.
“Kalau ada yang bungkus telur mentah pakai plastik untuk anak SD, itu jelas tidak bisa kami toleransi karena rawan pecah,” tegasnya.








