Bandar Lampung (Lampost.co) — Resident Evil Requiem telah resmi mendarat di pasar global pada akhir Februari 2026. Sebagai entri utama kesembilan, game ini tidak hanya membawa kembalinya Leon S. Kennedy. Namun, game ini juga memperkenalkan standar visual baru melalui evolusi RE Engine. Pengalaman visual yang didapatkan pemain sangat bergantung pada perangkat yang digunakan. Beberapa perangkat tersebut mulai dari PC dengan teknologi Path Tracing hingga optimasi mengejutkan di Nintendo Switch 2.
PC: Puncak Visual dengan Full Path Tracing
Platform PC tetap menjadi raja dalam urusan kualitas grafis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah seri ini, Capcom menyertakan fitur Full Path Tracing secara eksklusif untuk pengguna kartu grafis kelas atas seperti Nvidia RTX 50-series. Dengan Path Tracing, simulasi cahaya, bayangan, dan pantulan di dalam reruntuhan Raccoon City terlihat hampir fotorealistik.
Pengguna PC juga mendapatkan akses ke DLSS 4 yang dilengkapi Multi-Frame Generation. Fitur ini memungkinkan frame rate tetap stabil di atas 120 FPS pada resolusi 4K. Selain itu, detail kecil seperti sistem Strand Hair pada karakter Leon dan Grace terlihat sangat halus tanpa adanya artifact visual yang biasanya muncul pada metode upscaling lama.
PlayStation 5 Pro: Debut Manis PSSR 2.0
Konsol terbaru Sony, PS5 Pro, menjadi primadona lewat dukungan PSSR 2.0 (PlayStation Spectral Super Resolution). Resident Evil Requiem adalah judul pertama yang memanfaatkan versi terbaru scaler AI milik Sony ini. Hasilnya, kualitas gambar pada mode Ray Tracing 60 FPS terlihat sangat mendekati resolusi 4K asli.
Berbeda dengan PS5 standar, versi Pro mampu mempertahankan detail tekstur pada objek jauh dengan sangat tajam. Meskipun tidak mendukung Path Tracing penuh seperti di PC, pantulan cahaya pada permukaan basah dan kaca di PS5 Pro jauh lebih akurat. Hal ini jika dibandingkan konsol generasi dasar lainnya.
PlayStation 5 dan Xbox Series X: Standar 60 FPS Tanpa Ray Tracing
Pada konsol dasar PS5 dan Xbox Series X, Capcom mengambil keputusan berani dengan menonaktifkan fitur Ray Tracing pada mode performa standar demi menjaga stabilitas 60 FPS. Resolusi internal berada di kisaran 1080p yang kemudian ditingkatkan secara spasial. Meski tetap terlihat memukau berkat aset fotogrametri berkualitas tinggi, efek pantulan cahaya di sini masih menggunakan Screen Space Reflections (SSR). Efek SSR ini terkadang terlihat pecah saat kamera bergerak cepat.
Xbox Series S dan Tantangan Resolusi
Xbox Series S menghadapi tantangan paling berat. Untuk menjalankan game ini secara stabil, Capcom menurunkan resolusi internal hingga 720p. Perbedaan paling mencolok terlihat pada absennya sistem Strand Hair, di mana rambut karakter digantikan dengan model poligon yang lebih sederhana. Kendati demikian, performa tetap terjaga di 60 FPS, memberikan kenyamanan bermain meskipun detail visual dikorbankan secara signifikan.
Nintendo Switch 2: Optimasi yang Tak Terduga
Kejutan terbesar datang dari versi Nintendo Switch 2. Berkat arsitektur perangkat keras baru dari Nvidia, Switch 2 mampu menjalankan Resident Evil Requiem dengan kualitas yang bersaing. Detail geometri lingkungan memang mendapat pengurangan, namun penggunaan upscaling temporal membuat gambar terlihat lebih stabil dan minim noise. Hal ini jika kita bandingkan dengan versi PS5 standar dalam mode tertentu. UI pada Switch 2 berjalan di 1080p. Sementara itu, kualitas tekstur tetap terjaga pada level menengah, sehingga menjadikannya versi handheld paling mumpuni saat ini.
Kesimpulan
Resident Evil Requiem di tahun 2026 menunjukkan betapa lebarnya celah teknologi antar platform saat ini. PC dengan RTX 5090 menawarkan pengalaman horor yang tak tertandingi secara teknis. Sementara PS5 Pro menjadi standar baru untuk kenyamanan bermain di konsol dengan bantuan AI Upscaling. Bagi pengguna konsol dasar dan handheld, optimasi cerdas Capcom memastikan atmosfer horor tetap terasa meski tanpa bumbu visual kelas atas.








