Kelangkaan sub-Neptunus di sekitar bintang kecil bukan sekadar anomali statistik, tetapi petunjuk bahwa proses pembentukan planet di alam semesta jauh lebih kompleks dari yang selama ini dipahami.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Di antara jutaan sistem bintang di Galaksi Bima Sakti, ada sebuah pola yang membuat para astronom berhenti sejenak dan bertanya ulang tentang cara alam semesta membentuk planet. Pola itu sederhana, tapi aneh: planet berukuran “tanggung” yang disebut sub-Neptunus hampir tidak ditemukan di sekitar bintang kecil.
Padahal, bintang kecil—terutama bintang merah redup—adalah jenis bintang yang paling banyak di galaksi kita.
Temuan ini datang dari analisis observasi misi NASA melalui teleskop TESS (Transiting Exoplanet Survey Satellite) yang mengamati ribuan bintang selama bertahun-tahun.
Dari lebih dari 8.000 bintang kecil yang dipelajari, hanya segelintir kecil planet sub-Neptunus yang berhasil dikonfirmasi. Angkanya begitu rendah hingga terasa “tidak seimbang” jika dibandingkan dengan jenis planet lain.
Sebaliknya, planet berbatu berukuran super-Earth justru muncul dalam jumlah jauh lebih banyak.
Dalam teori umum pembentukan planet, ada sebuah pola yang dikenal sebagai “radius valley”—semacam batas alami yang memisahkan planet kecil berbatu dengan planet yang memiliki lapisan gas tebal seperti Neptunus.
Namun, pada sistem bintang kecil, pola ini seperti “terhapus”. Planet tidak banyak ditemukan di zona ukuran menengah. Mereka cenderung berakhir sebagai:
Fenomena ini membuat para ilmuwan menduga ada proses khusus yang hanya terjadi di sekitar bintang-bintang redup tersebut.
Para peneliti mengajukan dua penjelasan utama yang masih terus diuji.
Dalam teori ini, planet terbentuk dari penggabungan partikel debu dan es kecil di ruang angkasa. Proses ini bisa menghasilkan planet berbatu yang cukup cepat, tetapi tidak cukup lama untuk mengumpulkan atmosfer tebal seperti sub-Neptunus.
Bintang kecil sering kali memiliki aktivitas radiasi tinggi di masa awal kehidupannya. Energi ini bisa “mengupas” atmosfer planet muda, membuat planet yang awalnya lebih besar akhirnya menyusut menjadi super-Earth.
Fenomena ini bukan sekadar soal katalog planet. Ia memengaruhi cara manusia mencari kehidupan di luar Bumi.
Jika bintang kecil ternyata didominasi planet berbatu, maka peluang menemukan dunia yang berpotensi layak huni justru bisa lebih besar dari perkiraan sebelumnya.
Artinya, fokus pencarian tidak lagi hanya pada bintang mirip Matahari, tetapi juga pada bintang kecil yang jumlahnya jauh lebih banyak di galaksi.
Meski data dari TESS sudah sangat besar, para ilmuwan masih belum memiliki gambaran lengkap tentang massa dan atmosfer planet-planet ini. Observasi lanjutan masih diperlukan untuk memahami apakah planet-planet tersebut benar-benar “gagal tumbuh” atau justru dibentuk dengan cara yang sama sekali berbeda.
Di titik ini, langit masih menyimpan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Kelangkaan sub-Neptunus di sekitar bintang kecil bukan sekadar anomali statistik, tetapi petunjuk bahwa proses pembentukan planet di alam semesta jauh lebih kompleks dari yang selama ini dipahami.
Di balik cahaya redup bintang-bintang kecil itu, mungkin tersembunyi cerita panjang tentang bagaimana dunia-dunia baru lahir—atau gagal lahir—di sudut-sudut Galaksi Bima Sakti.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update