Bandar Lampung (Lampost.co): Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengembangkan teknologi pemanenan air hujan yang berhasil meningkatkan efisiensi penggunaan air dan produktivitas pertanian di Desa Tiyuh Candra Kencana di Tulangbawang Barat. Program tersebut merupakan bagian dari Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Adapun pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2025.
Ketua Tim PKM, Aniessa Rinny Asnaning, menjelaskan bahwa teknologi pemanen air hujan di desa tersebut menampung air hujan dari atap bangunan ke dalam bak penampungan. Masyarakat kemudian memanfaatkan air tersebut untuk kebutuhan sanitasi dan pertanian hidroponik. “Air hujan yang sebelumnya terbuang kini bermanfaat untuk usaha hidroponik. Pemanfaatan ini sekaligus menekan biaya operasional. Sebab petani tidak lagi bergantung pada air tanah,” ujar Asnaning di ruang kerjanya beberapa hari lalu.
Program PKM ini melibatkan anggota Gapoktan Lestari Makmur dan para ibu rumah tangga. Pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap program tersebut, termasuk Ketua TP PKK Tulangbawang Barat. Asnaning menambahkan bahwa tim memilih Desa Tiyuh Candra Kencana sebagai lokasi percontohan karena selaras dengan visi pemerintah daerah. Hal tersebut mendorong ketahanan pangan keluarga melalui inovasi pertanian.
Selama pelaksanaan program, Asnaning menyatakan tim tidak menemui kendala berarti bersama anggota Gapoktan. Ia juga menegaskan bahwa meskipun penerapan teknologi saat ini baru berlangsung di satu desa, teknologi pemanen air hujan memiliki potensi penerapan di wilayah lain dengan curah hujan serupa.
“Karena Indonesia merupakan negara tropis, teknologi ini sangat memungkinkan untuk diterapkan di berbagai daerah,” ujarnya.
Antusiasme
Mahasiswa pendamping program, Muhammad Abiyyu Utomo, menyoroti pengalaman menarik selama proses pendampingan. Ia menilai masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi dalam menerima teknologi tersebut karena tim menyampaikan pendekatan yang praktis dan sesuai dengan kebutuhan warga.
“Kami belajar bahwa masyarakat lebih mudah menerima teknologi ketika kami menyampaikannya secara langsung dan aplikatif,” ujar Abiyyu di Kampus Polinela, Senin(22/12).
Keberhasilan program PKM ini menunjukkan bahwa teknologi pemanenan air hujan dapat diterapkan di daerah lain dengan kondisi curah hujan serupa. Selain meningkatkan produktivitas pertanian, inovasi ini juga menunjukkan kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam mendorong pertanian yang adaptif dan berkelanjutan. (Dewansyah Dwi Putra)








