Bandar Lampung (lampost.co)– Provinsi Lampung mencatatkan prestasi gemilang dalam pelaksanaan program strategis nasional dengan realisasi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melesat melampaui target awal. Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini memosisikan Bumi Ruwa Jurai sebagai salah satu daerah dengan performa terbaik di Indonesia dalam pemenuhan nutrisi pelajar.
Hingga periode Januari 2026, jangkauan program ini telah menyentuh angka 108 persen dengan total penerima manfaat mencapai 2,3 juta siswa di seluruh kabupaten/kota. Oleh karena itu, capaian impresif ini akan menjadi fondasi bagi pemerintah daerah untuk mengintegrasikan program tersebut dengan agenda pengentasan kemiskinan dan penguatan ekonomi kerakyatan pada tahun berjalan.
“Alhamdulillah, capaian kita sudah menembus 108 persen. Secara proporsional, kemungkinan besar Lampung saat ini menempati posisi nomor satu secara nasional,” ujar Mirza dalam keterangannya pada Selasa, 20 Januari 2026.
Meskipun secara kuantitas telah melampaui target, Mirza menekankan bahwa pihaknya sedang melakukan evaluasi mendalam untuk menyempurnakan kualitas pelaksanaan. Fokus utama pemerintah ke depan adalah memastikan program MBG mampu membuka lapangan kerja baru serta memperkuat rantai pasok pangan yang bersumber langsung dari produsen lokal di tingkat desa.
Selain aspek ekonomi, Gubernur juga menyoroti berbagai keluhan orang tua siswa terkait variasi menu yang sempat viral di medsos. Ia menginstruksikan penguatan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara ketat, mulai dari infrastruktur dapur hingga kualitas bahan baku makanan.
“Saya sudah memberikan penekanan keras soal SOP. Standardisasi harus diperkuat di semua lini, baik dari segi menu, kualitas bahan makanan, hingga fasilitas penunjangnya,” tegasnya.
Tantangan Besar
Selanjutnya, Mirza mengakui tantangan besar masih ada pada kesiapan logistik di level perdesaan. Walaupun Lampung merupakan lumbung pangan, namun sistem distribusi di tingkat desa belum sepenuhnya mampu memenuhi permintaan skala besar hingga 3.000 porsi per hari. Akibatnya, banyak pasokan bahan baku yang terpaksa masih didatangkan dari luar wilayah setempat.
Oleh sebab itu, Mirza mendesak daerah membina desa-desa agar mampu menjadi penopang mandiri bagi kebutuhan MBG. Dengan demikian, perputaran uang akan tetap tinggal di desa. Hal itu memicu pertumbuhan UMKM pangan lokal tanpa harus bergantung pada pasokan dari kota besar.
Pemprov Lampung juga telah memulai langkah inovatif dengan menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah program ini. Sampah sisa makanan dari program MBG diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) yang nantinya akan kembali kepada petani.
“Konsepnya sirkular. Sampah dari program ini kita olah menjadi POC. Kemudian hasilnya kita bagikan kembali kepada masyarakat untuk mendukung pertanian mereka,” pungkas Mirza.








