Bandar Lampung (lampost.co) — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mendorong pembangunan tanggul beton sepanjang 11 kilometer sebagai solusi permanen konflik gajah dan manusia di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Proyek senilai Rp105 miliar ini dirancang multifungsi, yakni sebagai pembatas keamanan sekaligus koridor wisata.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansyah, mengungkapkan bahwa proposal pembangunan infrastruktur tersebut telah diajukan secara resmi oleh Gubernur kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sejak Agustus lalu.
Langkah migrasi dari tanggul tanah ke beton diambil berdasarkan evaluasi mendalam di lapangan. Selama ini, tanggul tanah dinilai tidak efektif karena rentan erosi dan penyusutan ketinggian, sehingga gajah liar tetap bisa menyeberang ke pemukiman warga.
“Kendala tanggul tanah adalah cepat rusak akibat erosi. Tingginya menyusut sehingga gajah tetap bisa naik. Oleh karena itu, konstruksi beton menjadi solusi mutlak untuk menciptakan barrier yang kokoh dan tahan lama,” ujar Yanyan, Rabu, 21 Januari 2026.
Konsep Tanggul Multifungsi
Menariknya, tanggul ini tidak hanya berfungsi sebagai tembok pertahanan. Pemerintah mendesain infrastruktur ini agar memiliki permukaan yang lapang sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai destinasi wisata baru.
“Selain menghalangi gajah, ini bisa menjadi koridor wisata. Masyarakat nantinya dapat menikmati pemandangan ke arah TNWK dari atas tanggul yang besar dan lapang,” lanjutnya.
Mengenai anggaran Rp105 miliar, Yanyan menyebut angka tersebut merupakan estimasi awal dari daerah. Realisasi final akan bergantung pada perhitungan teknis dan audit dari Kementerian PU. Saat ini, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) terus mengawal usulan tersebut melalui koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
“Kami terus melakukan follow up. Harapannya bisa direalisasikan tahun ini karena kebutuhan di lapangan sudah sangat mendesak,” pungkas Yanyan.








