Jakarta (Lampost.co): Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kewaspadaan masyarakat untuk mengantisipasi potensi penyebaran virus Nipah di Indonesia. Ia menegaskan, pengalaman pandemi Covid-19 harus menjadi pelajaran agar negara tidak kembali gagap menghadapi ancaman kesehatan baru.
“Sekarang saat yang tepat membangun kewaspadaan dan kesiapsiagaan dengan menggali informasi yang utuh agar masyarakat memahami risiko virus Nipah,” ujar Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, melalui keterangan tertulis, Rabu, 4 Februari 2026.
Diskusi bertajuk Mengantisipasi Penyebaran Virus Nipah di Indonesia menghadirkan narasumber dari berbagai pihak terkait. Di antaranya Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Sumarjaya, Peneliti Utama Virologi BRIN Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, dan mantan Direktur WHO SEARO Tjandra Yoga Aditama. Selain itu, ada anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi, dan wartawan senior Saur Hutabarat. Adapun yang menjadi moderatornya yakni Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Arimbi Heroepoetri .
Rerie menilai kesiapan pemangku kepentingan dan pemahaman publik tentang virus Nipah harus berjalan seiring. Meski Indonesia belum mencatat kasus terkonfirmasi, pemerintah telah mengimbau masyarakat mewaspadai penyebaran virus yang muncul di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah menyampaikan panduan jelas terkait langkah antisipasi dan perilaku aman di tengah masyarakat.
Ni Luh Putu Indi Dharmayanti menjelaskan, wabah virus Nipah bersifat sporadis dan menyerang manusia serta hewan. Di beberapa negara, virus ini menyebabkan kerugian besar pada sektor peternakan. Ia menyebut Indonesia memiliki risiko tinggi karena keanekaragaman hayati yang besar. Virus Nipah menyerang sistem pernapasan, otot, dan otak. Tantangan pencegahan meliputi keterbatasan data epidemiologis, ketimpangan kapasitas diagnostik, serta rendahnya kesadaran masyarakat.
Sumarjaya menyebut virus Nipah sebagai penyakit emerging dengan reservoir alami kelelawar buah. Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan mentah yang terkontaminasi, serta kontak erat dengan penderita atau benda yang tercemar virus. Masa inkubasi berlangsung 4–14 hari dengan gejala demam, flu, pusing, gangguan pernapasan berat, hingga kematian. Hingga kini, belum tersedia obat spesifik maupun vaksin. Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan segera mendatangi fasilitas kesehatan bila mengalami gejala.
Ancaman Global
Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan, WHO telah memasukkan virus Nipah dalam Disease Outbreak News sejak 30 Januari 2026. Status tersebut menunjukkan potensi ancaman global bila negara gagal mengendalikan penyebaran. Namun, WHO juga membuka peluang wabah dapat berhenti jika penanganan berjalan efektif. Virus Nipah juga masuk peta jalan riset dan pengembangan WHO.
Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi menilai pembahasan virus Nipah relevan dan strategis karena menyangkut ketahanan sistem kesehatan nasional. Menurutnya, ancaman kesehatan sering datang tanpa tanda dan membesar jika negara lalai membaca sinyal awal.
Wartawan senior Saur Hutabarat menambahkan, peningkatan literasi publik penting untuk mengubah kebiasaan berisiko. Ia mencontohkan, buah yang telah ada bekas gigitan hewan seharusnya tidak lagi menjadi konsumsi demi mencegah penularan penyakit.








