Bandar Lampung (lampost.co)–Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Provinsi Lampung menyerukan urgensi kolaborasi lintas sektor untuk menjaga keberlangsungan rute penerbangan langsung (direct flight) dari Bandara Radin Inten II menuju Malaysia. Dukungan ini dianggap krusial bukan sekadar demi kepentingan bisnis, melainkan untuk mengunci status Bandara Radin Inten II sebagai gerbang internasional.
Ketua Astindo Lampung, Adi Susanto, memberikan peringatan keras terkait risiko penghentian rute jika tingkat keterisian kursi (seat load factor) tidak mencapai target. Menurutnya, pihak penyelenggara penerbangan carter saat ini tengah mengambil risiko investasi yang besar demi mengaktifkan kembali konektivitas global di Lampung.
“Kita harus mengapresiasi keberanian penyelenggara yang mau mengambil risiko ini. Perjuangan mengembalikan status bandara internasional tidaklah mudah. Namun, jika mereka merugi karena minim penumpang, rute ini bisa berhenti sewaktu-waktu. Pertanyaannya, siapa yang akan bertanggung jawab jika status internasional kita hilang lagi?” tegas Adi, Selasa, 10 Februari 2026.
Efisiensi Biaya dan Waktu
Adi menyayangkan sikap beberapa pihak yang masih enggan memberikan dukungan nyata, termasuk dalam hal penggunaan anggaran perjalanan dinas atau pribadi untuk mengisi kuota kursi di fase krusial ini. Padahal, berdasarkan data pasar, penerbangan langsung menawarkan efisiensi lebih unggul ketimbang jalur transit.
Berdasarkan pemantauan pada agen perjalanan daring (Online Travel Agent), tiket penerbangan Lampung–Malaysia via transit Jakarta kisaran Rp2,4 juta hingga Rp3,1 juta pada momen libur panjang. Tak hanya mahal, total waktu tempuh penumpang bisa mencapai 7 jam.
“Dengan direct flight, biaya dan waktu tempuh dapat terpangkas secara signifikan. Ini adalah keunggulan kompetitif. Memilih penerbangan langsung berarti turut serta menjaga martabat Lampung di kancah penerbangan internasional,” jelas Adi.
Astindo berharap pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dapat lebih proaktif dalam mempromosikan rute ini. Agar akses internasional satu-satunya di Bumi Ruwa Jurai tersebut tidak kembali ditutup akibat kurangnya dukungan pasar.








