Bandar Lampung (Lampost.co) — Kabar kurang sedap menghampiri para perakit PC dan antusias teknologi di awal tahun 2026. Raksasa teknologi NVIDIA secara resmi mengonfirmasi bahwa pengiriman unit GPU Gaming GeForce terancam tersendat dalam beberapa bulan ke depan. Fenomena ini diprediksi akan memicu kenaikan harga di tingkat retail, termasuk di pasar Indonesia.
Pernyataan ini muncul dalam laporan keuangan kuartal keempat (Q4) tahun fiskal 2026 yang baru saja dirilis. Chief Financial Officer NVIDIA, Colette Kress, menegaskan bahwa tantangan utama yang dihadapi divisi gaming saat ini bukanlah rendahnya minat pembeli, melainkan murni keterbatasan ketersediaan barang di rantai pasok global.
Krisis Memori GDDR7 Jadi Biang Keladi
Meskipun NVIDIA tidak merinci komponen spesifik yang langka dalam panggilan investor tersebut, pengamat industri dan analis rantai pasok mencatat bahwa kelangkaan memori GDDR7 menjadi hambatan terbesar. Arsitektur Blackwell yang diusung oleh seri RTX 50 memerlukan modul memori generasi terbaru ini dalam jumlah besar.
NVIDIA sebenarnya telah mengamankan kapasitas produksi chip di TSMC dengan sangat baik. Namun, para produsen memori saat ini dikabarkan kewalahan memenuhi permintaan GDDR7 yang melonjak drastis, sementara sebagian besar kapasitas produksi mereka juga dialihkan untuk memori HBM (High Bandwidth Memory) guna memenuhi kebutuhan server AI yang jauh lebih menguntungkan secara margin.
Performa Finansial yang Kontradiktif
Sepanjang Q4 2026, divisi Gaming NVIDIA mencatat performa gemilang. Pendapatannya mencapai USD 3,7 miliar. Angka ini melonjak 47 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh peluncuran seri RTX 50. Jajarannya mencakup RTX 5090 hingga varian kelas menengah seperti RTX 5060.
Namun, jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (Q3 2026), pendapatan justru turun sekitar 13 hingga 14 persen. Colette Kress menjelaskan bahwa penurunan ini terjadi akibat normalisasi stok distributor setelah periode liburan akhir tahun.
Meski begitu, ada hal yang lebih mengkhawatirkan. Stok diperingatkan tidak akan kembali normal dalam waktu dekat. Kondisi ini diperkirakan berlanjut hingga Q1 2027 (tahun fiskal) atau semester pertama 2026 kalender.
Dampak Bagi Gamer di Indonesia
Di pasar Indonesia, tanda-tanda kelangkaan ini mulai terasa di berbagai marketplace dan pusat perbelanjaan komputer. Berdasarkan pantauan terbaru pada akhir Februari 2026, harga kartu grafis seri Blackwell mulai merangkak naik. Berikut estimasi kondisi harga saat ini:
1. GeForce RTX 5090: Stok sangat terbatas dengan harga yang sulit dikontrol, bahkan menyentuh angka di atas Rp 40 juta untuk varian tertentu.
2. GeForce RTX 5070 Ti & 5060 Ti: Mengalami kenaikan harga sekitar 10-15 persen dari harga peluncuran awal akibat stok distributor yang menipis.
3. GeForce RTX 5060: Menjadi varian paling dicari dengan rentang harga Rp 6 juta hingga Rp 7,5 juta, namun ketersediaannya mulai tidak merata di daerah.
Strategi Menghadapi Kelangkaan
Bagi gamer yang berencana upgrade PC pada 2026, para ahli menyarankan agar tidak menunda pembelian. Jika menemukan stok dengan harga resmi (MSRP), sebaiknya segera diamankan.
Ketersediaan GPU diprediksi tetap ketat hingga pertengahan tahun. Dalam kondisi seperti ini, potensi “scalping” atau penimbunan oleh pihak ketiga bisa kembali terjadi. Situasinya dikhawatirkan mirip dengan krisis GPU pada 2021 lalu.
NVIDIA sendiri belum dapat memastikan kapan pasokan akan benar-benar stabil. Perusahaan hanya menegaskan bahwa mereka terus bekerja sama dengan mitra manufaktur. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Tujuannya adalah memenuhi permintaan pasar gaming yang tetap agresif, meski di tengah tren kecerdasan buatan yang terus meningkat.








