BANDAR LAMPUNG (lampost.co) — Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong penguatan sektor perkebunan, khususnya komoditas tebu. Upaya ini sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan ketahanan pangan nasional. Hal itu mengemuka dalam kegiatan silaturahmi antara Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama jajaran Kementerian Pertanian, petani, dan pemangku kepentingan di Pondok Pesantren Sabilul Musthofa. Dalam Kegiatan titu, rombongan langsung bertemu pimpinan pondok pesantren, KH Ahmad Romli Latif.
Turut hadir dalam kegiatan itu Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Abdul Roni Angkat dan Tenaga Ahli Menteri Pertanian Brigjen TNI Arif Hendro Jatmiko. Selain itu, hadir juga Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan Kusharyanto. Sejumlah kepala dinas dan praktisi pertanian juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Perkebunan Abdul Roni Angkat mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Lampung dalam mengembangkan hilirisasi komoditas unggulan.
“Kami mengapresiasi upaya Pemprov Lampung dalam mendorong hilirisasi komoditas perkebunan. Kementerian Pertanian siap mendukung agar Lampung menjadi salah satu sentra pertanian unggulan nasional, khususnya tebu,” ujarnya.
Potensi Besar
Ia menegaskan, komoditas tebu memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai sektor strategis di Lampung, didukung tata niaga yang baik dari hulu hingga hilir.
“Tebu ini bisa menjadi kekuatan besar. Lampung harus berjaya di komoditas tebu dengan dukungan sistem tata niaga gula yang kuat,” tambahnya.
Selain tebu, Lampung juga memiliki potensi besar pada komoditas lain seperti kopi, kakao, dan lada. Namun, komoditas tersebut dinilai belum optimal dalam hal branding dan penetrasi pasar.
Sementara itu, Gubernur Lampung melalui Kepala Dinas Perkebunan Lampung, Desti Arisandi, menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi mulai dari penguatan sektor hulu.
“Hilirisasi tidak bisa berjalan tanpa penguatan hulu. Kita harus memperkuat bahan baku melalui perluasan, rehabilitasi, dan peremajaan tanaman perkebunan,” katanya.
Tujuh Komoditas
Ia menjelaskan, Lampung memiliki tujuh komoditas unggulan yang menjadi fokus pengembangan, yakni tebu, kopi, lada, karet, kakao, kelapa dalam, dan kelapa sawit. Dari komoditas tersebut, tebu menjadi salah satu prioritas. Sebab, Lampung merupakan sentra terbesar ketiga nasional.
“Untuk mendukung hilirisasi, saat ini Kementerian Pertanian fokus memperkuat sektor hulu pada periode 2025 hingga 2027. Kegiatan ini melalui program pengembangan dan penyediaan bahan tanam unggul,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pemprov Lampung juga mendorong pembangunan sumber benih untuk memperkuat sektor perkebunan di daerah.
“Kami telah mengusulkan pembangunan sumber benih untuk komoditas tebu, kopi, lada, karet, dan kelapa dalam. Harapannya, Lampung bisa menjadi sentra pembenihan perkebunan nasional,” ujarnya.
Menurutnya, Lampung saat ini juga memiliki banyak penangkar benih yang berpotensi mendukung kebutuhan program nasional. Bahkan hingga ke luar daerah.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha, Lampung diharapkan mampu memperkuat posisi sebagai lumbung komoditas perkebunan sekaligus pusat hilirisasi, dengan tebu sebagai salah satu andalan utama.








