Alasan Netanyahu soal Penangkapan WNI di Misi Gaza

Pernyataan itu muncul setelah militer Israel menangkap sejumlah aktivis dan jurnalis internasional, termasuk sembilan warga negara Indonesia.

Editor Effran
Rabu, 20 Mei 2026 11.40 WIB
Alasan Netanyahu soal Penangkapan WNI di Misi Gaza
PM Israel Benjamin Netanyahu. (Foto: Dok. Medcom/EPA)

Jakarta (Lampost.co) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya angkat bicara terkait operasi pencegatan kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di Laut Mediterania.

Dalam pernyataannya, Netanyahu justru mengecam misi bantuan menuju Gaza tersebut dan menyebut operasi itu sebagai upaya melanggar blokade Israel.

Pernyataan itu muncul setelah militer Israel menangkap sejumlah aktivis dan jurnalis internasional, termasuk sembilan warga negara Indonesia.

 Netanyahu Sebut Misi Gaza Langgar Blokade

Benjamin Netanyahu memuji operasi militer Israel yang menghentikan armada Global Sumud Flotilla sebelum mencapai Gaza.

Ia mengatakan langkah tersebut berhasil menggagalkan rencana yang menguntungkan Hamas. Netanyahu juga menyebut operasi berjalan sukses dengan dampak yang lebih kecil dari perkiraan pihak lawan.

“Saya percaya Anda melakukan pekerjaan yang luar biasa menggagalkan rencana jahat untuk melanggar blokade,” ujar Netanyahu melalui kantor resmi Perdana Menteri Israel.

 Israel Tuduh Konvoi sebagai Provokasi

Kementerian Luar Negeri Israel sebelumnya mengecam keberangkatan armada Global Sumud Flotilla. Pemerintah Israel menilai konvoi tersebut sebagai bentuk provokasi internasional terhadap kebijakan blokade Gaza.

Melalui akun resmi di platform X, Israel bahkan menyinggung keterlibatan kelompok asal Turki dalam misi tersebut.

Israel juga menuduh salah satu organisasi yang terlibat memiliki kaitan dengan aktivitas terorisme. “Kali ini dua kelompok Turki yang melakukan kekerasan menjadi bagian dari provokasi,” tulis Kementerian Luar Negeri Israel.

 Pasukan Elite Israel Naik ke Kapal Aktivis

Laporan media Israel menyebut pasukan elite laut Shayetet 13 melakukan intersepsi terhadap kapal-kapal dalam armada GSF. Rekaman yang beredar memperlihatkan sejumlah aktivis pindah ke kapal militer Israel.

Setelah itu, mereka menuju pelabuhan Ashdod. Sebelum operasi berlangsung, Israel sebenarnya meminta armada membatalkan perjalanan menuju Gaza. Namun, konvoi tetap melanjutkan pelayaran sehingga militer melakukan pencegatan di laut.

 Daftar Kapal yang Dicegat Israel

Beberapa kapal dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla dipastikan dicegat militer Israel. Kapal tersebut antara lain Amanda, Barbados, Blue Toys, Cactus, Furleto, Holy Blue, dan Kyriakos.

Selain itu, kapal Tenaz, Zio Fatare, Josef, Jandabar, hingga Sadabad juga ikut tertahan. Seluruh kapal itu membawa aktivis kemanusiaan dan jurnalis dari berbagai negara.

 Sembilan WNI Ditahan

Dalam armada tersebut terdapat sembilan warga negara Indonesia yang ikut berlayar menuju Gaza. Mereka terdiri dari aktivis kemanusiaan dan jurnalis.

Nama-nama WNI tersebut yakni Thoudy Badai, Hendro Prasetyo, Andre Prasetyo, Andi Angga, Ronggo Wirasanu, Herman Budianto, As’ad Aras, Rahendro Herubowo, dan Bambang Nuryono. Pemerintah Indonesia langsung bergerak melakukan koordinasi untuk memastikan keselamatan mereka.

Kementerian Luar Negeri RI mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat armada kemanusiaan internasional tersebut.

Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi. “Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan militer Israel,” ujar Vahd.

Ia menegaskan situasi di lapangan masih sangat dinamis dan memerlukan langkah antisipasi cepat. Kemlu RI juga terus berkoordinasi dengan sejumlah kedutaan besar Indonesia di kawasan Timur Tengah bersama KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman.

Pemerintah Indonesia kini menyiapkan langkah perlindungan bagi seluruh WNI yang berada dalam armada Global Sumud Flotilla.

Kemlu RI juga membuka kemungkinan percepatan proses pemulangan apabila situasi semakin memburuk. “Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia,” kata Vahd.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI