Resmi Tuan Rumah PON 2032, Lampung Cetak Sejarah

Penetapan Lampung sebagai tuan rumah PON XXIII 2032 bersama Banten membuka peluang besar bagi pembangunan olahraga daerah sekaligus berpotensi menggerakkan ekonomi dan pariwisata.

Editor Lulu
Kamis, 21 Mei 2026 19.30 WIB
Resmi Tuan Rumah PON 2032, Lampung Cetak Sejarah
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dan Ketua KONI Lampung berpose bersama jajaran pengurus KONI Pusat usai Musornaslub KONI di Ballroom Hotel Pullmen Jakarta, Kamis (21/5). Lampung dan Banten secara resmi terpilih sebagai tuan rumah PON 2032. (Dok. KONI Lampung)

Bandar Lampung (Lampost.co) — Lampung memasuki panggung besar olahraga nasional. Provinsi paling Selatan Pulau Sumatra itu ditetapkan sebagai tuan rumah bersama Pekan Olahraga Nasional (PON) XXIII 2032 dengan Banten.

Poin Penting:

  • Lampung dan Banten resmi menjadi tuan rumah PON XXIII 2032.

  • Pemerintah ingin menjadikan olahraga sebagai penggerak ekonomi daerah.

  • KONI Lampung mulai mempersiapkan infrastruktur olahraga.

Keputusan tersebut disepakati dalam Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) KONI di Ballroom Hotel Pullmen Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026. Momentum itu langsung memicu optimisme besar di Lampung yang untuk pertama kali menjadi tuan rumah PON.

Bagi pemerintah daerah, status tuan rumah bukan sekadar kebanggaan seremonial. Sebaliknya, keputusan itu menjadi peluang strategis membangun identitas baru daerah.

Baca juga: Kunjungan KONI dan Dispora Banten Perkuat Kesiapan PON 2032

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menyebut penunjukan itu sebagai kehormatan besar. Selain itu, ia menilai momentum tersebut dapat memicu kebangkitan olahraga Lampung.

​”Alhamdulillah, ini adalah suatu kehormatan dan kesempatan yang luar biasa bagi Lampung untuk bisa menjadi tempat sejarah dalam kegiatan olahraga ini. Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, ada semangat baru yang terlahir, terutama semangat kolaborasi yang erat antara seluruh stakeholder olahraga, maupun juga daya juang dari atlet-atlet kita,” ujar Mirzani dalam keterangan kepada Lampost.co, Kamis, 21 Mei 2026.

Mirzani menekankan prestasi tidak lahir dari kerja individu semata. Karena itu, pemerintah daerah mulai mendorong sinergi antara eksekutif, KONI, dan pengurus cabang olahraga. Langkah tersebut menjadi fondasi penting menuju PON 2032.

Selain mengejar prestasi atlet, pemerintah juga ingin membangun budaya hidup sehat. Mirzani berharap olahraga menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Lampung.

Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah terhadap olahraga. Kini, olahraga tidak lagi dipandang sekadar ajang kompetisi.

Sebaliknya, olahraga mulai diposisikan sebagai instrumen pembangunan daerah. Dampaknya bahkan dapat menjangkau sektor ekonomi dan pariwisata.

Ketua KONI Lampung, Taufik Hidayat, menilai status tuan rumah merupakan amanah besar. Karena itu, pihaknya langsung bergerak menyiapkan langkah strategis.

​”Mari kita jadikan ini pemacu semangat untuk meningkatkan prestasi atlet. Saatnya Lampung Bangkit! Bangkit prestasinya, bangkit ekonominya, dan bangkit pariwisatanya,” kata Taufik.

KONI Lampung segera memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya. Fokus utama mereka berada pada kesiapan infrastruktur olahraga.

Persiapan tersebut menjadi tantangan besar bagi Lampung. Sebab, penyelenggaraan PON membutuhkan fasilitas olahraga berstandar nasional.

Tanpa infrastruktur memadai, Lampung sulit menjadi tuan rumah kompetitif. Karena itu, pembangunan venue olahraga harus berjalan terukur dan berkelanjutan.

Selain venue, Lampung juga harus memperkuat pembinaan atlet sejak dini. Faktor tersebut menentukan peluang daerah meraih prestasi saat menjadi tuan rumah.

Ajang Pembuktian Lampung

PON selama ini sering menjadi ajang pembuktian kekuatan olahraga daerah. Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur masih mendominasi perolehan medali nasional.

Karena itu, Lampung membutuhkan lompatan besar untuk bersaing di level elite nasional. Pembinaan atlet tidak boleh berhenti pada agenda jangka pendek.

Di sisi lain, PON 2032 juga menyimpan potensi ekonomi besar. Ribuan atlet, ofisial, dan wisatawan diperkirakan datang ke Lampung selama penyelenggaraan berlangsung.

Situasi tersebut dapat menggerakkan sektor pariwisata dan UMKM lokal. Hotel, restoran, transportasi, hingga pelaku usaha kecil akan merasakan dampaknya.

Karena itu, pemerintah mulai melihat olahraga sebagai mesin ekonomi baru daerah. Jika dikelola serius, PON dapat menghadirkan efek berganda bagi Lampung.

Taufik Hidayat bahkan menyebut PON harus menjadi momentum kebangkitan daerah. Ia ingin olahraga, ekonomi, dan pariwisata tumbuh secara bersamaan.

Namun, tantangan terbesar berada pada konsistensi kebijakan pemerintah. Banyak daerah gagal memanfaatkan momentum olahraga karena program tidak berkelanjutan.

Lampung harus menghindari pola pembangunan instan. Pemerintah perlu memastikan fasilitas olahraga tetap dimanfaatkan setelah PON selesai.

Selain itu, penguatan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting. Pelatih, manajemen olahraga, dan organisasi cabor harus berkembang lebih profesional.

PON 2032 juga dapat menjadi momentum memperkenalkan budaya Lampung ke tingkat nasional. Ajang tersebut membuka peluang promosi wisata dan budaya lokal.

Karena itu, penyelenggaraan PON tidak boleh hanya berorientasi pada seremoni. Pemerintah perlu menjadikannya bagian dari transformasi daerah jangka panjang.

Status tuan rumah PON 2032 membawa peluang sekaligus tekanan besar bagi Lampung. Di satu sisi, PON dapat mempercepat pembangunan olahraga dan ekonomi.

Namun, di sisi lain, Lampung menghadapi tantangan besar soal kesiapan infrastruktur dan pembinaan atlet. Tanpa perencanaan matang, momentum tersebut dapat menjadi beban baru.

Karena itu, kolaborasi seluruh elemen menjadi kunci utama keberhasilan. Pemerintah, KONI, swasta, dan masyarakat harus bergerak bersama.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI