Bandar Lampung (Lampost.co) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengantisipasi potensi cuaca ekstrem selama periode Angkutan Lebaran 2026. Pihaknya terus berupaya memperkuat kesiapsiagaan dan sinergi antar instansi. Terlebih dalam menjaga keselamatan masyarakat selama mobilitas mudik dan arus balik Idul Fitri.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi, Andri Ramdhani, menyampaikan kondisi cuaca secara umum periode libur Hari Raya Idul Fitri 2026. Prakiraannya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berbagai wilayah Indonesia.
Namun demikian, terdapat potensi hujan lebat sejumlah daerah seperti Sumatera Selatan, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jakarta, Jawa Barat. Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, serta Papua Pegunungan.
“BMKG terus melakukan analisis dan pemantauan kondisi atmosfer secara berkelanjutan. Serta menyampaikan informasi dan peringatan dini cuaca secara tepat waktu. Ini guna mendukung keselamatan masyarakat dan aktivitas terutama selama periode Angkutan Lebaran 2026,” ujar Andri dalam siaran resminya.
Kemudian ia menjelaskan bahwa BMKG juga menyiapkan langkah mitigasi melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Ini terlaksanakan secara situasional dan berbasis kebutuhan. Langkah ini bertujuan untuk membantu menekan intensitas curah hujan wilayah yang berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi. Khususnya pada kawasan dengan mobilitas masyarakat tinggi selama masa mudik.
“Diseminasi informasi cuaca untuk sektor transportasi harapannya dapat mendukung keselamatan transportasi. Dan mengurangi risiko akibat cuaca ekstrem di sektor transportasi,” tambahnya.
Antisipasi
Selanjutnya, Andri menyampaikan bahwa BMKG juga mengimbau seluruh pemangku kepentingan, operator transportasi. Serta masyarakat untuk secara aktif memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.
Informasi tersebut mencakup prakiraan cuaca, peringatan dini, serta potensi risiko bencana hidrometeorologi. Ini yang dapat tergunakan sebagai dasar pengambilan langkah antisipasi.
“BMKG menghimbau seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk selalu memperbarui informasi cuaca, peringatan dini, serta kondisi potensi risiko. Kelalui kanal resmi BMKG agar langkah antisipasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat,” katanya.
Sementara itu, masa Angkutan Lebaran 2026 akan berlangsung selama 18 hari, mulai 13 hingga 30 Maret 2026. Dengan periode Posko Terpadu pada tanggal yang sama. Beberapa momentum penting dalam periode tersebut antara lain Cuti Bersama Hari Suci Nyepi pada 18 Maret. Hari Suci Nyepi pada 19 Maret, serta Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah pada 21–22 Maret 2026.
Selain itu, program Angkutan Motor Gratis (Motis) akan terlaksanakan pada 13–19 Maret 2026 untuk arus mudik dan 24–30 Maret 2026 untuk arus balik. Pemerintah juga menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada 16–17 Maret serta 25–27 Maret 2026. Ini guna membantu mengurai kepadatan pergerakan masyarakat.
Kemudian BMKG bersama kementerian/lembaga dan operator transportasi menegaskan komitmen untuk terus memperkuat koordinasi, pertukaran data. Serta langkah mitigasi berbasis informasi cuaca guna mendukung kelancaran dan keselamatan Angkutan Lebaran 2026.








