Bandar Lampung (Lampost.co) – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bandar Lampung menghadapi tekanan berat sepanjang 2025. Banyak pedagang mengalami penurunan omzet dan kesulitan modal usaha.
Kondisi ekonomi yang melemah membuat daya beli masyarakat ikut menurun. Dampak tersebut langsung terasa pelaku usaha mikro.
Omzet Usaha Lebih Berat Dibanding Masa Pandemi
Yati, pemilik warung makan di Jalan Darussalam, Langkapura, merasakan penurunan omzet signifikan selama 2025. Ia menilai kondisi tahun lalu lebih berat dari masa pandemi Covid-19. Pendapatan harian tidak stabil dan sering menurun.
Kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi faktor utama. Masyarakat kini lebih selektif saat berbelanja. Sebagian besar pembeli berasal dari kalangan ekonomi bawah. Kelompok itu sering menahan pengeluaran karena keterbatasan uang.
“Saya berharap pemerintah memberikan bantuan usaha secara murni. Tapi, jangan bantuan yang memiliki bunga atau kepentingan politik,” kata Yati.
Menurutnya, bantuan modal harus membantu rakyat tanpa syarat rumit. Bantuan tersebut seharusnya mendorong kesejahteraan pelaku usaha kecil. Ia juga meminta pemerintah lebih hadir di tengah masyarakat ekonomi lemah.
Pedagang Buah Keluhkan Sulitnya Akses Kredit
Keluhan serupa dirasakan Dian, penjual buah di Bandar Lampung. Ia mengaku kesulitan mendapatkan modal usaha.
Dian menyebut proses pengajuan kredit terlalu rumit. Padahal dana tersebut untuk modal usaha, bukan kebutuhan pribadi.
Ia juga mengungkapkan belum pernah menerima bantuan usaha dari pemerintah. Bantuan yang ia terima hanya untuk kebutuhan pendidikan anak.
Dian berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada 2026. Ia meminta ada kemudahan proses modal usaha.
“Pedagang kecil membutuhkan dukungan nyata agar tetap bertahan. Akses modal yang lancar bisa menggerakkan ekonomi rakyat,” kata Dian.
(Restu Amalia)








