Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung mendorong penguatan hilirisasi industri komoditas pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Langkah itu menjadi motor penggerak ekonomi agar tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah.
Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Lampung, Bani Ispriyanto, mengatakan program hilirisasi sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menitikberatkan pada industri berbasis teknologi, padat karya, dan berorientasi ekspor.
Potensi Lampung memiliki potensi besar karena punya basis komoditas unggulan dengan dukungan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus yang terus berkembang.
“Hilirisasi sangat perlu agar sektor pertanian dan perkebunan tidak hanya menghasilkan bahan baku. Tapi, juga produk turunan dengan nilai tambah lebih tinggi,” ujarnya dalam agenda Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Lampung di Hotel Novotel Bandar Lampung, Kamis, 11 September 2025.
Pemprov Lampung juga menyalurkan 24 unit dryer padi dan empat mesin penepung mokaf kepada kelompok tani dan UMKM. Dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), dana desa, dan koperasi turut bergerak untuk memperkuat rantai pasok pangan.
“Keberhasilan hilirisasi tidak hanya pemerintah yang menentukan. Tapi, dunia usaha juga perlu memperkuat kemitraan dengan petani, akademisi menghadirkan teknologi pascapanen, dan perbankan menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif,” kata dia.
Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian Bappeda Lampung, Ridwan Saifuddin, mengatakan hilirisasi sebagai instrumen utama pembangunan daerah. Program tersebut masuk dalam RPJMD dan RPJPD sebagai strategi jangka menengah dan panjang.
“Pertanian menjadi basis utama dan pendekatan share value bisa menjadi nilai tambah yang langsung bisa masyarakat rasakan,” kata dia.
Ia menambahkan, proses hilirisasi di Lampung masih menghadapi sejumlah tantangan, baik dari sisi infrastruktur, teknologi, maupun kapasitas sumber daya manusia.
Untuk itu, perlu sinergi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan petani untuk mendorong keberlanjutan sektor agro di masa depan. “Untuk mengatasi tantangan ini, perlu sinergi bersama-sama,” kata dia.








