Literasi Keuangan Perempuan Masih Tertinggal, OJK Lampung Perkuat Edukasi

Peringatan Hari Kartini menjadi momentum untuk mendorong peningkatan kapasitas perempuan, terutama dalam pengelolaan keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Lampung mencatat tingkat literasi keuangan perempuan masih berada di bawah laki-laki

Editor Asrul Septian Malik
Rabu, 22 April 2026 22.16 WIB
Literasi Keuangan Perempuan Masih Tertinggal, OJK Lampung Perkuat Edukasi
Deputi Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen, Keuangan Daerah, serta Layanan Manajemen Strategis OJK Lampung, Ety Elyati/Dok Lampost.co

Bandar Lampung (Lampost.co) – Peringatan Hari Kartini menjadi momentum untuk mendorong peningkatan kapasitas perempuan, terutama dalam pengelolaan keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Lampung mencatat tingkat literasi keuangan perempuan masih berada di bawah laki-laki.

Deputi Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen, Keuangan Daerah, serta Layanan Manajemen Strategis OJK Lampung, Ety Elyati, menyebut indeks literasi keuangan perempuan pada 2025 mencapai 65,58 persen. Angka ini masih tertinggal dari laki-laki yang berada di level 67,32 persen.

Meski selisihnya tidak besar, Ety menilai kondisi ini tetap perlu perhatian serius. Perempuan, termasuk ibu rumah tangga, memegang peran penting dalam mengatur keuangan keluarga sehingga membutuhkan pemahaman yang kuat terhadap produk dan layanan keuangan.

Ia menjelaskan penggunaan layanan keuangan di masyarakat sudah cukup tinggi. Tingkat inklusi keuangan bahkan mencapai 92,74 persen. Namun, tingginya akses tersebut belum sepenuhnya diimbangi pemahaman yang memadai.

“Banyak yang sudah menggunakan produk keuangan, tapi belum semuanya memahami secara utuh. Ini bisa berdampak pada kesalahan dalam pengambilan keputusan,” kata Ety dalam podcast Economic Corner Lampung Post.

Untuk mengatasi hal itu, OJK Lampung terus menggencarkan edukasi keuangan dengan menyasar berbagai komunitas perempuan. Program ini menjangkau kelompok PKK, pelaku UMKM, hingga komunitas bank sampah dan pemberdayaan ekonomi lainnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas lebih efektif karena perempuan berperan langsung dalam pengelolaan ekonomi rumah tangga.

Selain edukasi, OJK juga mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dalam memilih produk keuangan. Ety menekankan pentingnya prinsip legal dan logis sebelum memutuskan menggunakan suatu layanan.

Ia mengimbau masyarakat memastikan lembaga keuangan telah berizin dan diawasi, serta tidak mudah tergiur iming-iming keuntungan tinggi yang tidak masuk akal.

“Semakin tinggi literasi keuangan, masyarakat akan semakin kritis dalam menilai apakah suatu penawaran itu masuk akal atau tidak,” ujarnya.

Melalui berbagai langkah tersebut, OJK Lampung berharap kesenjangan literasi keuangan antara perempuan dan laki-laki dapat terus menurun, sekaligus mendorong kemandirian ekonomi perempuan.

(Intan Tyas/Magang)

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI