Bandar Lampung (Lampost.co) — Provinsi Lampung menjadi salah satu lumbung pangan nasional dan basis komoditas perkebunan. Potensi besar dari sektor pertanian dan perkebunan menjadikan Lampung sebagai pilar penting dalam pengembangan agroindustri Indonesia.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Yulia Astuti, menyebut kekuatan utama Lampung terletak pada kapasitas menghasilkan bahan baku bagi industri pengolahan. Mulai dari kopi, kelapa sawit, karet, hingga buah-buahan, menjadi fondasi pertumbuhan industri berbasis agro di daerah.
“Kopi robusta Lampung sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia. Potensi hilirisasinya pun sangat luas, seperti kopi instan, bubuk premium, hingga produk minuman berbasis kopi yang memiliki pasar ekspor,” ujar Yulia, dalam agenda Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Lampung Triwulan II 2025 di Novotel Lampung, Kamis, 11 September 2025.
Selain itu, Lampung juga memiliki perkebunan kelapa sawit dan karet yang luas. Komoditas itu menjadi dasar bagi pengembangan industri minyak goreng, margarin, serta berbagai produk turunan karet yang mendukung sektor manufaktur.
Di sektor hortikultura, Lampung sebagai penghasil buah dengan daya saing tinggi. Produk nanas kaleng turut menjadi komoditas ekspor andalan bersama industri makanan ringan dan olahan lainnya yang semakin berkembang.
Kontribusi sektor industri agro terhadap PDRB Lampung pada 2024 juga signifikan. Industri makanan dan minuman tercatat menyumbang Rp78.112,22 miliar, bersama industri karet, barang dari karet, dan plastik Rp5.153,05 miliar.
Kemudian industri kertas dan barang kertas berkontribusi Rp905,39 miliar, furnitur Rp165,10 miliar, kayu dan produk kayu Rp106,46 miliar, serta pengolahan tembakau Rp30,32 miliar.
Menurut dia, transformasi digital dan hilirisasi menjadi kunci peningkatan daya saing. Penerapan Industri 4.0, restrukturisasi mesin, dan pengembangan produk bernilai tambah tinggi akan memperkuat posisi Lampung di pasar global.
“Optimalisasi akses pasar global harus berjalan seiring dengan hilirisasi. Sehingga, produk agroindustri Lampung bisa menembus rantai pasok internasional,” kata dia.
Pengembangan SDM
Kementerian Perindustrian juga menekankan pentingnya pengembangan SDM dan ekosistem inovasi berkelanjutan. Program seperti Cocoa Doctor, Bamboo Academy, hingga pendampingan Industri 4.0 menjadi fondasi untuk menyiapkan talenta unggul yang mampu bersaing.
“SDM yang siap menghadapi tantangan global dan ekosistem inovasi yang sehat akan memastikan keberlanjutan agroindustri Lampung di masa depan,” kata dia.








