Liwa (Lampost.co)–Sejumlah petani tomat di wilayah Kecamatan Balikbukit, Lampung Barat bersedih dan mengeluh lantaran anjloknya harga. Di tingkat petani sayuran jenis buah kaya likopen ini hanya berkisar Rp500-1000/kg.
Akibat harga anjlok itu, kini banyak petani yang sengaja membiarkan buah tomatnya membusuk di lahan. “Siapa yang mau tomat ambil saja di kebun,” kata Agung, petani tomat di Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balikbukit, Lambar, Minggu, 1 September 2024.
Ia mengaku, harga buah tomat sejak beberapa Minggu ini turun. Bahkan saat ini sudah pecah dari seribu atau sekitar Rp500/kg dari tiga Minggu lalu masih Rp1.500/kg.
Baca Juga: Harga Cabai Turun di Pasar Bandarjaya
Jika harga tomat sudah anjlok hingga mencapai Rp1.500 apalagi kurang dari seribu tentu akan merugi. Maka, banyak petani memilih untuk membiarkanya membusuk di lahan, ini mengakibatkan kerugian.
Sebab jika tetap dipanen tidak akan ada hasilnya lagi. Karena untuk memanenya saja perlu kotak. Sementara harga kotaknya saja sudah Rp14 ribu/buah belum lagi untuk upah pekerja yang memetiknya.
Ia mengaku, harga tomat anjlok ini karena panen raya di mana-mana. Sehingga stok di pasaran melimpah sementara kebutuhan pasar normal.
Jika harga tomat anjlok seperti ini, jelas petani akan merugi. Sebab biaya produksi seperti kebutuhan pupuk juga naik.
“Kalau harga sedang anjlok seperti ini, pedagang pengumpul juga tidak sanggup menampung banyak sehingga banyak tomat yang terbuang,” jelas dia.
Sementara itu, pemantauan di Bandar Lampung, harga tomat di tingkat pedang juga berkisar Rp4.000-5.000/kg.
“Iya harga tomat masih turun, ayo borong buat di jus atau buat saos asli enak ini, mumpung murah,” kata Bude Pat, pedagang sayuran di Pasar Kangkung, Minggu. 1 September 2024.