Purbaya Klaim Kondisi Ekonomi Masih Aman Meski Rupiah Rp17.600 per Dolar AS

Rupiah melemah hingga Rp17.600 per dolar AS dan IHSG ikut tertekan.

Editor Effran
Selasa, 19 Mei 2026 11.35 WIB
Purbaya Klaim Kondisi Ekonomi Masih Aman Meski Rupiah Rp17.600 per Dolar AS
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Antara

Jakarta (Lampost.co) — Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat memicu kekhawatiran publik. Sebagian investor mulai membandingkan situasi saat itu dengan krisis moneter 1998.

Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda daripada masa krisis 1997-1998.

Purbaya menilai fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat. Ia menegaskan Indonesia belum mengalami resesi dan pertumbuhan ekonomi tetap bergerak positif.

“Beda dengan 1997-1998. Saat itu kebijakan ekonomi bermasalah dan resesi terjadi lebih dulu,” kata Purbaya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, Indonesia saat ini masih memiliki ruang besar untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah juga terus melakukan berbagai langkah antisipasi menghadapi tekanan global.

“Sekarang belum resesi. Ekonomi masih tumbuh cukup kuat, jadi ruang perbaikan masih terbuka,” ujarnya.

IHSG Turun Tajam

Tekanan terhadap rupiah turut menyeret pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada sesi preopening perdagangan Senin pagi, IHSG turun 94,344 poin atau 1,40 persen. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG berada di level 6.628,976 saat pembukaan perdagangan.

Meski begitu, Purbaya meminta investor tidak panik menghadapi gejolak pasar jangka pendek. Ia bahkan menganggap koreksi pasar saat ini sebagai momentum menarik bagi investor. “Kalau saya bilang jangan takut. Serok bawah sekarang,” ujar Purbaya.

Ia optimistis pasar saham dapat kembali pulih dalam waktu dekat setelah tekanan mereda. “Kalau lihat teknikalnya, satu sampai dua hari bisa balik lagi,” lanjutnya.

Rupiah Cetak Rekor Terlemah Baru

Berdasarkan data Reuters pada Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.645 per dolar AS. Angka itu menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah perdagangan pasar spot. Sepanjang 2026, rupiah melemah sekitar 5,99 persen terhadap dolar AS.

Sementara itu, sejak Oktober 2024, depresiasi rupiah mencapai sekitar 12 persen. Saat itu, kurs rupiah masih berada di kisaran Rp15.400 per dolar AS. Data Bloomberg juga menunjukkan rupiah sempat berada di posisi Rp17.674 per dolar AS pada perdagangan siang hari.

Perbedaan dengan Krisis Moneter 1998

Purbaya menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia saat itu tidak mengalami tekanan berlapis seperti tahun 1998. Pada masa krisis moneter, Indonesia menghadapi resesi panjang, gejolak politik, serta tekanan besar terhadap sistem keuangan nasional.

Saat ini, kata dia, pertumbuhan ekonomi masih terjaga dan konsumsi domestik tetap berjalan. “Dulu masuk resesi dulu baru krisis makin parah. Sekarang situasinya berbeda,” jelasnya.

Selain menjaga nilai tukar rupiah, pemerintah juga terus memantau pergerakan pasar saham dan arus modal asing.

Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia aktif menjaga stabilitas ekonomi melalui berbagai kebijakan strategis.

Pemerintah juga menyiapkan langkah untuk menjaga daya beli masyarakat serta memperkuat sektor riil di tengah tekanan global.

Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan pemerintah dan bank sentral untuk menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam.

Kilas Balik Rupiah Saat Krisis 1998

Pada puncak krisis 1998, rupiah sempat jatuh hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS. Situasi itu memicu tekanan besar terhadap ekonomi nasional.

Namun, pada era Presiden BJ Habibie, nilai tukar rupiah perlahan pulih hingga kembali ke kisaran Rp6.500 per dolar AS dalam waktu sekitar 17 bulan.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI