Solok (Lampost.co) — Kabut tipis masih bergelayut di lereng bukit Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Senin, 4 Agustus 2025. Udara pagi membawa aroma segar tanah basah, bercampur wangi manis yang samar aroma nira pohon enau yang baru disadap.
Di tengah hamparan hijau, sebuah rumah panggung kayu berukuran 4×20 meter berdiri kokoh. Cat kayunya mulai memudar, tapi di dalamnya ada denyut kehidupan yang mengubah wajah desa.
Tempat itu adalah Rumah Pintar Kampung Berseri Astra (KBA) Jorong Tabek, pusat dari gerakan ekonomi sirkular yang kini menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Rumah panggung itu dibangun pada 2019 secara gotong royong. Namun, fungsinya kini lebih dari sekadar tempat berkumpul, tetapi terdapat ruang belajar, pusat diskusi, dan laboratorium hidup untuk inovasi yang berangkat dari kearifan lokal.
Pagi itu, lantai kayu rumah panggung berderit pelan saat belasan ibu rumah tangga duduk melingkar. Beberapa memegang buku catatan dan yang lain sibuk menganyam bambu untuk wadah gula semut.
Di pojok ruangan, rak buku dipenuhi bacaan tentang pertanian, ekonomi kerakyatan, dan budaya Minang. Di dinding, terpajang foto-foto kegiatan warga, seperti panen bersama, lomba memasak, hingga rapat pembentukan kelompok usaha.
“Dulu, kami cuma kumpul untuk arisan. Sekarang, kami kumpul untuk mikirin masa depan desa,” kata Kasri Satra, Ketua KBA sekaligus inisiator ekonomi sirkular di Jorong Tabek.
Rumah itu punya banyak fungsi, mulai dari perpustakaan budaya, tempat diskusi dengan penggiat sosial, hingga pusat koordinasi bagi 90 pelaku ekonomi setempat. Bahkan, di meja depan, tercatat daftar 45 homestay yang siap menerima tamu sebagai tanda desa itu juga siap menjadi destinasi wisata edukasi.

Gula Semut, Manisnya dari Alam
Suara detakan kayu juga terdengar ritmis dari lokasi yang tidak jauh dari Rumah Pintar. Bunyi itu berasal dari pemukulan pangkal bunga pohon enau yang menjadi teknik tradisional untuk merangsang keluarnya nira. Di tangan terampil para pengrajin, nira segar mengalir ke bambu penampung dan dibawa ke rumah produksi.
Sementara itu, uap panas mengepul dari oven berbahan bakar gas di dapur produksi. Warga mengaduk nira dengan sabar, hingga cairan kental berubah menjadi bubuk gula semut berwarna cokelat muda, lembut dalam genggaman.
Sementara di teras Rumah Pintar berkumpul sejumlah ibu-ibu yang duduk menakar gula semut ke dalam kemasan kecil. “Kalau panen bagus bisa 20 kilogram sehari. Tapi, kalau ada pasar lebih luas, bisa sampai 50 kilogram,” ujar seorang ibu sambil tersenyum dengan tangan tetap mengaduk tanpa henti.
Gula semut dari Jorong Tabek itu punya keistimewaan karena diproduksi di ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut dengan suhu sejuk 18–24°C.
Letak geografis itu membuat kadar gulanya tinggi dan teksturnya halus. Produk itu dikelola 20 kepala keluarga dengan produksi optimal mencapai 1.500 kilogram per bulan.
Limbah Tak Terbuang
Keunikan Jorong Tabek juga bukan hanya pada hasil akhirnya. Sebab, limbahnya pun punya cerita sendiri. Ampas gula semut, sisa tebu, dan sampah organik rumah tangga dibawa ke Rumah Magot.
Di dalam bangunan sederhana, ribuan larva lalat Black Soldier (maggot) bergerak aktif mengurai limbah menjadi pakan ikan bernutrisi tinggi.
“Kalau dulu limbah dibuang saja, sekarang malah jadi sumber penghasilan tambahan,” kata Kasri sambil menunjukkan ember berisi maggot dewasa siap panen.
Sementara itu, sampah non-organik, seperti botol plastik, kaleng, dan bungkus makanan dikumpulkan di bank sampah. Setiap warga punya buku tabungan sampah untuk mencatat rupiah dari konversi berat sampah yang mereka setor.
Uang itu bisa warga ambil kapan pun atau tetap menjadi simpanan. Sebagian hasil penjualan sampah kembali ke warga dan sebagian lagi untuk membangun fasilitas umum, seperti taman dan sarana wisata.
Dari Rumah Magot itu langkah kaki masyarakat setempat membawa ke Kolam Ikan KBA. Air kolam memantulkan cahaya matahari siang. Kolam itu turut menjadi titik terakhir dari rantai ekonomi sirkular di Jorong Tabek.
Maggot dari limbah organik menjadi pakan ikan sedangkan ikannya turut menjadi daya tarik wisata dengan tiket masuk dari pemancing untuk membantu warga kurang mampu. “Rata-rata bersihnya Rp5 juta per bulan yang digunakan untuk biaya kesehatan dan pendidikan,” kata dia.

Desa yang Berubah Wajah
Beberapa tahun lalu, Jorong Tabek adalah desa pegunungan yang nyaris tidak terdengar namanya. Jalan berkelok menuju desa itu jarang dilewati dan perekonomian warga berjalan seadanya. Namun, daerah itu kini menjadi tujuan wisata budaya dan edukasi dengan 45 homestay yang siap menerima tamu.
Wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati udara sejuk dan pemandangan bukit, tapi juga belajar langsung tentang konsep ekonomi sirkular. Dampaknya pun terasa nyata mulai dari bergeraknya ekonomi kerakyatan, akses pendidikan terbuka, dan solidaritas sosial menguat.
Bahkan, sebagian keuntungan usaha kembali untuk warga, yaitu membiayai beasiswa bagi 20 anak muda berprestasi yang kini menempuh studi di Jepang.
Kegiatan Jorong Tabek itu menjadi bukti desa bisa bangkit tanpa meninggalkan jati diri. Mereka tidak hanya mengolah hasil alam, tetapi juga mengelola sisa-sisanya. Bahkan, masyarakatnya tidak hanya memikirkan hari ini, tetapi juga menanam benih untuk masa depan.








