KUALA LUMPUR (Lampost.co) — Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Lampung dinilai memiliki peluang besar untuk menembus pasar Malaysia. Potensi ini terungkap dalam pertemuan strategis antara Pemerintah Provinsi Lampung dengan jajaran Atase Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.
Poin Penting
- Potensi UMKM: Produk Lampung siap go internasional dengan catatan perbaikan pada kemasan (packaging) dan konsistensi kualitas.
- Logistik Strategis: Peningkatan infrastruktur pelabuhan dan konektivitas laut/udara menjadi syarat mutlak kelancaran ekspor.
- Peluang Kerja: Malaysia mengalihkan fokus penyerapan tenaga kerja asing ke sektor formal (industri, jasa, dan konstruksi) ketimbang sektor domestik.
- Sinergi Lintas Sektor: Kerja sama Pemprov Lampung dan KBRI Kuala Lumpur mencakup perdagangan, perhubungan, dan ketenagakerjaan.
Atase Perdagangan KBRI Kuala Lumpur, Aziza Rahmaniar Salam, menjelaskan bahwa produk UMKM Lampung cukup menjanjikan untuk bersaing di level internasional. Meski demikian, ia menekankan pentingnya pemenuhan standar global agar produk lokal mampu bersaing secara kompetitif.
Baca juga : Lampung Perluas Kerja Sama ke Malaysia, Jajaki Sektor Dagang hingga Ketenagakerjaan
Menurut Aziza, UMKM perlu menjalin kemitraan dengan pelaku usaha lokal di Malaysia, meningkatkan kapasitas produksi, serta menjaga konsistensi kualitas. Selain itu, aspek visual seperti kemasan harus dibenahi agar lebih menarik dan sesuai standar pasar. Pemahaman terhadap mekanisme ekspor-impor juga menjadi faktor krusial dalam memperluas akses pasar.
Konektivitas dan Pergeseran Sektor Tenaga Kerja
Dari sisi distribusi, Atase Perhubungan KBRI Kuala Lumpur menyoroti pentingnya penguatan konektivitas antara Lampung dan Malaysia. Penguatan jalur transportasi laut maupun udara serta pengembangan infrastruktur pelabuhan dinilai menjadi kunci utama dalam memperlancar arus barang antarwilayah.
Sementara itu, Atase Tenaga Kerja KBRI Kuala Lumpur, Harry Ayusman, memaparkan adanya pergeseran tren kebutuhan tenaga kerja di Malaysia. Saat ini, Malaysia tidak lagi memprioritaskan pekerja migran di sektor domestik (asisten rumah tangga), yang kini hanya menyerap sekitar 11 persen dari total tenaga kerja asing.
Peluang besar justru terbuka lebar pada sektor perkebunan, industri pengolahan, jasa, terapis, konstruksi, hingga pertambangan.
“Kondisi ini dinilai membuka peluang besar bagi tenaga kerja Lampung yang memiliki keterampilan dan kompetensi sesuai kebutuhan industri,” ujar Harry.
Melalui sinergi ini, Pemprov Lampung berharap dapat membangun keberlanjutan dalam mendorong ekspor produk daerah, pengembangan pariwisata, hingga penempatan tenaga kerja berkualitas.
“Kerja sama lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.








