Warga Arab Berbondong ke Indonesia Cari Tanaman yang Disebut dalam Al-Qur’an

Tanaman tersebut tercantum dalam Surah Al-Insan ayat 5. Dalam ayat itu, Allah menyebut minuman surga yang bercampur dengan air kafur bagi orang-orang beriman.

Editor Effran
Senin, 18 Mei 2026 14.46 WIB
Warga Arab Berbondong ke Indonesia Cari Tanaman yang Disebut dalam Al-Qur’an
Pohon kamper. (Foto: Dok Lindungihutan.com)

Jakarta (Lampost.co) – Sejak ratusan tahun lalu, wilayah Nusantara ternyata menarik perhatian dunia Arab. Salah satu pemicunya berasal dari tanaman aromatik yang disebut dalam Al-Qur’an, yakni kamper atau kapur barus.

Tanaman tersebut tercantum dalam Surah Al-Insan ayat 5. Dalam ayat itu, Allah menyebut minuman surga yang bercampur dengan air kafur bagi orang-orang beriman.

Banyak ulama menafsirkan kafur sebagai cairan harum yang berasal dari tanaman kamper alami. Tanaman itu berbeda dengan kapur barus modern yang umum sebagai pengharum lemari.

Kapur barus masa kini biasanya berasal dari bahan kimia sintetis berbasis naphthalene. Sementara kamper dalam sejarah kuno berasal dari pohon bernama latin Dryobalanops aromatica. Tanaman tersebut memiliki aroma khas dan sejak lama memiliki nilai ekonomi tinggi.

 Sumatera Jadi Pusat Kamper Terbesar Dunia

Bangsa Arab mulai mencari sumber kamper alami karena tanaman itu tidak tumbuh di wilayah Timur Tengah. Penelusuran jalur perdagangan akhirnya membawa mereka ke Pulau Sumatera. Tepatnya di kawasan Fansur atau yang kini sebagai Barus, Sumatera Utara.

Arkeolog Edward McKinnon dalam buku Ancient Fansur, Aceh’s Atlantis menjelaskan Barus menjadi pusat perdagangan kapur barus sejak ribuan tahun lalu.

Wilayah tersebut terkenal sebagai penghasil kamper berkualitas tinggi yang sangat diminati pasar internasional. Para pedagang Arab bahkan rutin menyebut Fansur dalam catatan perjalanan mereka.

Ahli geografi Romawi, Ptolemy, menulis nama Barus pada abad pertama Masehi. Sementara pedagang Arab Ibn Al-Faqih pada tahun 902 M menyebut Fansur sebagai daerah penghasil kapur barus, pala, cengkih, dan kayu cendana.

Catatan lain datang dari Ibn Sa’id al-Maghribi pada abad ke-13. Ia menjelaskan kapur barus terbaik berasal dari Pulau Sumatera.

Kualitas kamper Barus bahkan lebih unggul dari kamper dari Malaya dan Kalimantan. Untuk itu, para saudagar Arab rela menempuh perjalanan laut panjang demi mendapatkan komoditas tersebut.

 Pedagang Arab Datang dengan Kapal Besar

Sejarawan Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu menjelaskan pedagang Arab datang langsung dari Teluk Persia. Mereka berlayar melewati Sri Lanka sebelum mencapai pantai barat Sumatera.

Kapal-kapal besar untuk mengangkut kapur barus dalam jumlah besar menuju pasar internasional. Barus kemudian berkembang menjadi pelabuhan penting di jalur perdagangan Asia. Selain berdagang, banyak saudagar Arab akhirnya menetap di kawasan pesisir Sumatera.

 Kapur Barus Jadi Jalur Awal Penyebaran Islam

Kedatangan pedagang Muslim membawa pengaruh besar terhadap masyarakat lokal. Aktivitas perdagangan perlahan berubah menjadi jalur penyebaran Islam di Nusantara.

Wilayah seperti Barus, Lamri, dan Haru menjadi titik awal interaksi budaya Arab dan masyarakat Sumatera. Sejumlah sejarawan menduga Islam mulai masuk ke Barus sejak abad ke-7 Masehi.

Dugaan itu dengan keberadaan kompleks makam kuno Mahligai di Barus. Di kawasan tersebut terdapat nisan kuno yang diperkirakan berasal dari abad ketujuh.

Meski teori masuknya Islam masih diperdebatkan, Barus tetap dianggap memiliki peran penting dalam sejarah Islam Indonesia.

 Indonesia Terkenal di Dunia Sejak Zaman Kuno

Perdagangan kapur barus membuat Nusantara rerkenal luas di dunia internasional sejak ribuan tahun lalu. Komoditas alam dari Sumatera membuka jalur hubungan dagang antara Indonesia, Arab, India, hingga China.

Jaringan perdagangan itu akhirnya memperkuat posisi Nusantara sebagai pusat perdagangan penting di kawasan Asia. Kapur barus bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah awal hubungan dunia Arab dengan Indonesia.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI