Bandar Lampung (Lampost.co) — Sutradara Guy Ritchie kembali ke zona nyamannya lewat film perang penuh gaya berjudul The Ministry of Ungentlemanly Warfare (2024). Film ini mengangkat kisah nyata yang relatif jarang dibahas, yakni operasi rahasia Inggris pada era Perang Dunia II yang mengandalkan metode “tidak kesatria” demi melumpuhkan kekuatan Nazi dari balik garis musuh.
Alih-alih menyuguhkan drama perang yang muram dan penuh penderitaan, Ritchie memilih pendekatan berbeda: aksi cepat, humor sinis khas Inggris, dan karakter-karakter flamboyan yang membuat perang terasa seperti misi mata-mata penuh adrenalin.
Diangkat dari Kisah Nyata Operasi Rahasia Inggris
The Ministry of Ungentlemanly Warfare terinspirasi dari operasi rahasia Inggris yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Special Operations Executive (SOE). Unit ini dibentuk secara khusus untuk melakukan sabotase, penyamaran, dan serangan diam-diam terhadap Nazi—metode yang pada masanya dianggap “tidak bermoral” atau tidak sesuai aturan perang konvensional.
Film ini mengikuti pembentukan tim komando elit yang diberi kebebasan bertindak tanpa aturan baku. Mereka menjalankan misi berisiko tinggi dengan pendekatan kasar, licik, dan penuh improvisasi, demi satu tujuan: melemahkan mesin perang Jerman Nazi.
Henry Cavill Jadi Pemimpin Komando Penuh Karisma
Henry Cavill tampil dominan sebagai pemimpin unit rahasia ini. Karakternya digambarkan dingin, percaya diri, namun tetap karismatik—sosok jagoan perang yang terasa pas dengan gaya penyutradaraan Guy Ritchie.
Ia didukung deretan pemain kuat, seperti:
-
Eiza González
-
Alan Ritchson
-
Hero Fiennes Tiffin
Masing-masing karakter memiliki ciri khas tersendiri, dari ahli senjata, spesialis penyamaran, hingga petarung brutal jarak dekat. Dinamika tim menjadi salah satu kekuatan utama film ini, terutama lewat interaksi penuh humor dan dialog cepat yang menjadi ciri khas Ritchie.
Aksi Perang dengan Gaya Mata-Mata dan Humor Gelap
Secara visual dan tone, The Ministry of Ungentlemanly Warfare terasa seperti perpaduan film perang dan film mata-mata. Adegan-adegan baku tembak, ledakan, serta pertempuran jarak dekat dikemas dengan gaya stylish, tidak terlalu realistis, namun sangat menghibur.
Guy Ritchie kembali mengandalkan:
-
Dialog cepat dan tajam
-
Humor gelap khas Inggris
-
Adegan aksi penuh gaya
-
Irama cerita yang lincah
Pendekatan ini membuat film terasa ringan, meski latarnya adalah salah satu periode tergelap dalam sejarah manusia.
Respons Kritikus: Campuran, Tapi Cenderung Positif
Dari sisi kritik, The Ministry of Ungentlemanly Warfare menerima ulasan yang beragam, namun cenderung positif.
-
Rotten Tomatoes: 68% (Fresh tipis)
Rata-rata rating 6,1/10
Konsensus menyebut film ini berhasil mengubah kisah nyata penuh keberanian menjadi tontonan aksi blockbuster yang seru, meski tidak terlalu menegangkan secara emosional. -
Metacritic: 55/100
Mengindikasikan respons “rata-rata” dari kritikus, dengan catatan utama pada kedalaman cerita dan suspense yang dianggap kurang tajam.
Penonton Justru Lebih Antusias
Menariknya, respons penonton justru jauh lebih positif dibandingkan kritikus.
-
CinemaScore: A–
-
PostTrak: 88% penilaian positif
Banyak penonton memuji film ini sebagai hiburan perang yang fun, brutal, dan tidak membosankan. Aksi tim komando dan pesona Henry Cavill menjadi faktor utama yang membuat film ini disukai publik.
Bagi penonton umum, film ini berhasil menjalankan fungsinya sebagai tontonan aksi yang memuaskan, tanpa harus terlalu berat atau politis.
Kesimpulan: Film Perang Seru Tanpa Beban
Secara keseluruhan, The Ministry of Ungentlemanly Warfare bukan film perang yang mengajak merenung panjang soal tragedi perang. Sebaliknya, film ini hadir sebagai hiburan laga penuh gaya, dengan sentuhan sejarah nyata, humor gelap, dan aksi heroik khas Guy Ritchie.
Kritikus mungkin memberi sejumlah catatan soal kedalaman cerita, namun penonton jelas bersorak puas. Jika Anda mencari film Perang Dunia II yang seru, cepat, dan penuh karakter unik, film ini layak masuk daftar tontonan.








