Bandar Lampung (Lampost.co)– Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyalurkan 1,65 miliar porsi makanan bergizi gratis kepada penerima manfaat. Hal itu menunjukkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan dampak nyata di seluruh Indonesia.
Namun di tengah capaian tersebut, lembaga Badan Gizi Nasional, tengah bersiaga menghadapi kejadian luar biasa (KLB). Di tiga wilayah dengan total kasus mencapai lebih dari 6.000 pelajar keracunan setelah mengkonsumsi menu MBG.
Deputi Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional, Tigor Pangaribuan mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan evaluasi. Agar penyaluran bantuan gizi berjalan tepat sasaran dan efektif di lapangan.
Baca juga: Penguatan Tata Kelola dan Keamanan Pangan MBG Harus Jadi Sorotan Penting
“Masih banyak kritik yang masuk, justru itu yang menjadi masukan buat kami memperbaikinya, supaya penyaluran bantuan gizi tepat sasaran,” ujarnya, dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan Sistem dan Tata Kelola Program MBG di Novotel, Bandar Lampung, Jumat 31 Oktober 2025.
Tigor menegaskan akan memperketat sistem dan tata kelola pengawasan program MBG. Agar tidak ada celah penyimpangan dalam pelaksanaan program.
“Kami perketat sistemnya agar tidak ada penyimpangan dalam pelaksanaan program MBG. Maka itulah, hari ini kami mensosialisasikan untuk memberikan penyegaran dan pemahaman ulang tentang pedoman, juknis, dan SOP teknis MBG,” terangnya.
Sistem Penyaluran
Ia mengatakan selain membahas sistem penyaluran dan revisi Juknis-3 Pengelolaan Bantuan Pemerintah untuk tahun anggaran 2025. Sosialisasi tersebut juga menyoroti penanganan KLB gizi di tiga wilayah.
Pihaknya mengungkapkan KLB yang melibatkan lebih dari 6.000 penerima manfaat menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat koordinasi dan pemantauan di lapangan.
“KLB ini bukan sekadar angka. Ini peringatan bahwa penyaluran gizi harus lebih cepat, tepat, dan sesuai kebutuhan daerah,” tegasnya.
Dia menambahkan dengan alokasi anggaran mencapai Rp4,8 triliun untuk penyediaan bahan makanan seperti sayuran, Badan Gizi Nasional optimistis penanganan gizi akan semakin merata dan berkelanjutan.
“Program MBG diharapkan tak hanya menekan angka gizi buruk, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan masyarakat dari desa hingga perkotaan,” tandasnya.








