Bandar Lampung (Lampost.co) – Peningkatkan literasi peserta didik sejumlah sektor harus terdukung konsistensi kebijakan dan political will semua pihak terkait. Ini demi melahirkan generasi penerus bangsa yang berdaya saing masa depan.
“Upaya peningkatan literasi peserta didik butuh waktu dan konsistensi. Sehingga memerlukan dukungan semua pihak untuk menerapkan kebijakan dan sistem pendidikan yang berkesinambungan.” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 29 Juli 2025.
Selanjutnya menurut Lestari, skor literasi sains Indonesia memperlihatkan belum adanya konsistensi dalam upaya meningkatkan literasi peserta didik. Jika pemerintah menilai tantangan masa depan pada bidang sains dan teknologi penting untuk terhadapi. Rerie, sapaan akrab Lestari, berpendapat, upaya peningkatan literasi peserta didik bidang STEM harus benar-benar serius terlaksanakan.
Keseriusan itu, tambah Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu. Harus terealisasikan dalam bentuk konsistensi upaya peningkatan literasi peserta didik. Melalui pola pendidikan yang mendukung pencapaian sejumlah target untuk menghadapi tantangan masa depan.
Kemudian Rerie sangat berharap, para pemangku kepentingan tingkat pusat dan daerah dapat berkolaborasi dengan baik. Terlebih untuk mendukung berbagai upaya mewujudkan generasi penerus bangsa yang memiliki kompetensi sektor sains dan teknologi.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mendorong pemerintah dan masyarakat. Untuk dapat bersama-sama mewujudkan ekosistem yang mendukung tumbuhnya berbagai potensi yang dimiliki setiap anak bangsa. Ini demi meningkatkan daya saing sumber daya manusia nasional era globalisasi saat ini.
STEM
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya pembelajaran dan pengembangan STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika). Ini sebagai fondasi pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah Indonesia. Apalagi di tengah tuntutan perkembangan teknologi dan kebutuhan kompetensi masa depan.
Hal itu tersampaikan Abdul Mu’ti pada The 8th Annual Scientific Symposium of Indonesian Collegians in Japan (ASSIGN) ke-8. Kegiatan ini tergelar oleh PPI Jepang pada University of Tokyo kampus Bunkyo, Senin, 28 Juli 2025.
Sejak pertama kali berpartisipasi dalam Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2000. Indonesia secara konsisten mencatat skor literasi sains yang berada di bawah rata-rata negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).
Sementara pada PISA 2000, skor literasi sains Indonesia adalah 393, sementara rata-rata negara OECD mencapai skor 500. Meski sempat mengalami peningkatan pada tahun 2015 dengan skor 403, tren ini tidak berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Kemudian dalam PISA 2022, skor literasi sains Indonesia kembali menurun menjadi 366, yang merupakan salah satu skor terendah sejak awal partisipasi Indonesia dalam PISA.