Bandar Lampung (Lampost.co) — Tragedi banjir dan longsor yang melanda Sumatra pada November 2025 menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Peristiwa tersebut menegaskan pentingnya sains iklim dalam mitigasi bencana hidrometeorologi di Sumatra.
Poin Penting:
-
Bencana hidrometeorologi Sumatra meningkat akibat cuaca ekstrem.
-
Sains iklim penting untuk mitigasi dan peringatan dini.
-
Perlu penguatan sistem peringatan dini serta rekonstruksi harus berbasis adaptasi iklim.
Selain merusak infrastruktur, bencana hidrometeorologi Sumatra juga menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi besar. Oleh karena itu, pendekatan ilmiah mendesak untuk memperkuat sistem peringatan dini.
Pakar Agrometeorologi IPB University, Dr. I Putu Santikayasa, menilai analisis iklim berperan strategis. Menurutnya, data atmosfer mampu menyelamatkan nyawa jika pemanfaatan secara tepat. “Informasi iklim dapat mengurangi risiko dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat,” kata Putu, Minggu, 4 Januari 2026.
Baca juga: Korban Meninggal Bencana Sumatra 1.177 Orang per 4 Januari 2026
Selain itu, sains iklim membantu pemerintah merancang kebijakan mitigasi bencana berbasis data.
Putu juga menegaskan kondisi iklim saat bencana terjadi tidak normal. Meski demikian, fenomena global, seperti ENSO dan IOD, berada pada fase lemah.
Namun, faktor lokal justru memicu dampak besar. Kemunculan bibit siklon tropis di Selat Malaka memperkuat pembentukan awan hujan.
Akibatnya, hujan ekstrem mengguyur Sumatra bagian utara secara masif. Data BMKG menunjukkan lonjakan curah hujan signifikan.
Pada 26 November 2025, curah hujan mencapai 438 milimeter per hari. Angka tersebut setara curah hujan normal satu bulan penuh.
Karena itu, banjir bandang dan longsor tidak terhindarkan. Kondisi geografis Sumatra memperparah dampak hujan ekstrem tersebut.
Peringatan Dini Belum Optimal
Selain faktor alam, Putu menyoroti aspek sosial dan manajemen krisis. Saat bencana terjadi, lebih dari 50 warga terjebak di kawasan hutan.
Penyebabnya, akses terputus membuat proses evakuasi berjalan lambat. Padahal, tanda bahaya sudah muncul dari masyarakat hulu.
Informasi lisan antarwarga belum terintegrasi dalam sistem resmi. Akibatnya, jeda waktu antara peringatan dan evakuasi masih terlalu panjang. “Ini menunjukkan perlunya sistem peringatan dini berbasis dampak,” ujar Putu.
Menurut Putu, sains iklim wajib hadir dalam seluruh siklus bencana. Pertama, tahap prabencana membutuhkan pemetaan zona rawan berbasis data historis.
Kedua, saat bencana, pemerintah perlu impact-based forecasting. Pendekatan ini membantu menentukan prioritas penyelamatan secara presisi.
Ketiga, pascabencana membutuhkan proyeksi iklim jangka panjang. Langkah tersebut penting untuk rekonstruksi adaptif dan berkelanjutan.
Dengan demikian, pembangunan ulang tidak mengulang risiko lama. Selain itu, ketahanan wilayah dapat meningkat secara signifikan.
Putu menegaskan teknologi dan infrastruktur harus berjalan seiring. Sistem peringatan dini memberi waktu untuk bersiap.
Sementara itu, infrastruktur adaptif memberi kapasitas bertahan. Kolaborasi pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci.
Jika sains iklim terabaikan, risiko bencana akan terus meningkat. Sebaliknya, integrasi data iklim mampu menekan dampak bencana hidrometeorologi.







