Bandar Lampung (Lampost.co): Institut Teknologi Sumatera (Itera) mendorong percepatan hilirisasi singkong di Lampung karena pemanfaatan komoditas unggulan itu dalam industri pangan nasional masih rendah. Rektor Itera, Prof I Nyoman Pugeg Aryantha, menilai Lampung menempati posisi strategis di sektor agro, tetapi dunia riset dan industri belum mengintegrasikan kerja mereka secara optimal.
“Data menunjukkan Lampung unggul di bidang agro. Bahkan lima komoditas masuk jajaran top nasional, dan singkong menempati posisi pertama dengan kontribusi 31 persen,” kata Prof Nyoman dalam podcast Itera Talks di Studio Lampung Post, Kamis, 11 Desember 2025.
Ia melihat kondisi lapangan belum mencerminkan potensi besar tersebut. Karena itu, ia mendorong dunia usaha, peneliti, dan pemerintah menyatukan langkah untuk meningkatkan nilai tambah serta keterserapan singkong dalam industri.
“Kita memiliki banyak opsi untuk meningkatkan pemanfaatan singkong, tetapi kita harus membahasnya dalam skala besar. Industri selama ini masih menanggung beban, terutama karena penggunaan teknologi konvensional,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perubahan harga singkong memicu tekanan biaya bagi sejumlah pelaku industri. Dalam situasi itu, Itera berupaya hadir melalui kontribusi riset sebagai bagian dari solusi. Itera mengembangkan teknologi pengolahan tepung singkong atau modified cassava flour (mocaf) sebagai salah satu inovasi yang siap mereka dorong.
“Kami mengembangkan teknologi mocaf yang sebenarnya sederhana, tetapi sangat potensial untuk industri,” kata Prof Nyoman.
Rektor Itera menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor terigu sebagai sumber karbohidrat. Nilai impornya mencapai Rp30 triliun per tahun. Ia menilai mocaf mampu menggantikan sebagian kebutuhan tersebut.
“Faktanya, kita masih mengonsumsi sumber energi impor. Kita bisa menggantinya dengan mocaf jika pengembangan industrinya berjalan kuat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Itera siap menjalin kolaborasi maksimal demi kemaslahatan masyarakat serta penguatan industri, terutama melalui hilirisasi komoditas unggulan daerah.








