Bandar Lampung (Lampost.co)– Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Bandar Lampung menekankan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), untuk memahami tentang keamanan pangan karena sangat penting dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Keamanan pangan sangat penting, terutama bagi kita yang memproduksi pangan. Apalagi bagi yang memproduksi MBG, Salah satu alasannya adalah agar produk pangan yang dihasilkan tidak menimbulkan keracunan,” Koordinator Informasi dan Komunikasi BBPOM Bandar Lampung, Sri Wulan Mega, dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan Sistem dan Tata Kelola Program MBG di Novotel, Bandar Lampung, Jumat 31 Oktober 2025.
Wulan mengatakan bahwa kasus keracunan menu MBG di Provinsi Lampung beberapa kali terjadi. Penyebab utamanya adalah karena belum menerapkan prinsip-prinsip keamanan pangan secara benar.
Baca juga: BGN Telah Menyalurkan 1,65 Miliar Porsi MBG Kepada Penerima Manfaat
Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2019, keamanan pangan adalah upaya untuk mencegah terjadinya cemaran pada pangan berupa cemaran fisik, biologi, dan kimia.
“Upaya untuk mencegah ketiga jenis cemaran tersebut merupakan bagian dari penerapan keamanan pangan,” paparnya.
Namun tidak hanya itu, lanjutnya, produk pangan juga harus sesuai dengan adat istiadat dan agama yang berlaku. Jadi, suatu produk pangan di katakan aman apabila sesuai dengan nilai-nilai agama dan adat istiadat masyarakat setempat
“Contohnya, jika produk mengandung bahan yang tidak halal, maka bagi umat Islam, produk tersebut tidak di anggap aman. Begitu juga jika dalam suatu daerah ada larangan adat untuk mengonsumsi bahan tertentu, misalnya daging sapi, maka bahan tersebut tidak boleh kita gunakan,” Jelasnya.
Ia menyebut kasus keracunan menu MBG di Provinsi Lampung sebagian besar disebabkan oleh bakteri Escherichia coli, sumber utama bakteri ini adalah air.
“Jadi, meskipun sarana dan prasarana di SPPG sudah baik. Jika air yang kita gunakan tidak memenuhi standar kualitas, maka tetap berisiko menimbulkan keracunan.
Produk Pangan
Selain itu, pernah juga menemukan bakteri Salmonella Typhi dalam produk pangan. Bakteri ini biasanya berasal dari bahan baku yang sudah tercemar, seperti telur yang retak sedikit saja bisa menjadi tempat tumbuhnya Salmonella.
“Maka dari itu, jangan tergiur harga murah atau diskon besar jika kualitas telur tidak baik. Lebih baik membeli telur yang sedikit lebih mahal, tetapi kualitasnya terjamin. Telur adalah bahan pangan yang sangat rentan terhadap kontaminasi,” kata dia.
“Apalagi jika di rumah ada anak-anak, infeksi Salmonella Typhi bisa menyebabkan penyakit tifus. Jadi, penting sekali bagi kita semua untuk memperhatikan kualitas bahan baku, terutama yang berisiko tinggi seperti telur,” pungkasnya.







