Washington (Lampost.co) – Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan “sangat puas” dengan kesepakatan gencatan senjata pada Jalur Gaza. Proses itu tercapai melalui proses perundingan yang lama dan sulit guna mengakhiri perang 15 bulan. Perang itu telah membuat kehidupan Rakyat Palestina di sana bak “neraka.”
“Tidak ada cara lain untuk mengakhiri perang ini selain dengan kesepakatan pembebasan sandera.,” kata Biden dalam pernyataan Gedung Putih, Rabu, 15 Januari 2025.
“Rakyat Palestina telah melalui neraka. Terlalu banyak orang tak bersalah tewas, terlalu banyak masyarakat yang hancur. Dalam kesepakatan ini, Rakyat Gaza akhirnya dapat pulih dan membangun kembali. Mereka bisa menatap masa depan tanpa Hamas berkuasa,” katanya.
“Dan saya sangat puas bahwa hari ini akhirnya tiba demi Rakyat Israel dan keluarga yang menunggu dalam penderitaan. Serta demi orang-orang tak bersalah pada Gaza. Mereka telah menderita kehancuran yang tak terbayangkan akibat perang,” kata Biden.
Tiga Fase
Kemudian Biden menjelaskan tiga fase dalam struktur kesepakatan tersebut. Fase pertama mulai dengan periode enam minggu “gencatan senjata penuh dan menyeluruh” akan berlakukan. Bersamaan dengan “penarikan pasukan Israel dari seluruh area berpenduduk Gaza. Serta pembebasan sejumlah sandera yang ditahan Hamas, termasuk wanita, lansia, dan mereka yang terluka.”
Selanjutnya warga AS juga termasuk dalam daftar sandera yang akan terbebaskan. Kemudian akan diikuti dengan pembebasan ratusan tahanan Palestina oleh Israel. Selain itu, warga Palestina akan mendapat izin kembali ke lingkungan mereka “pada seluruh wilayah Gaza,”. Dan selama periode tersebut, bantuan kemanusiaan yang sangat terbutuhkan akan mulai mengalir secara signifikan.
Sementara itu, Israel saat ini menahan lebih dari 11.000 tahanan Palestina, sedangkan Hamas diperkirakan menahan 98 warga Israel pada Jalur Gaza. Hamas mengatakan bahwa banyak sandera Israel telah tewas akibat serangan udara Israel yang tanpa pandang bulu itu.
Kemudian negosiasi mengenai “pengaturan yang diperlukan”. Untuk menuju fase kedua akan terlaksanakan selama periode awal enam minggu ini. Dan gencatan senjata akan diperpanjang “selama negosiasi terus berlangsung,” ujar Biden.
Selanjutnya fase kedua mencakup pertukaran lebih lanjut antara tahanan untuk pembebasan sandera yang tersisa pada Gaza, termasuk tentara pria. Semua pasukan Israel yang masih berada pada wilayah Gaza akan mundur selama fase ini. Dan gencatan senjata sementara akan menjadi permanen.
Lalu fase ketiga, yang terakhir, mencakup pemulangan jenazah sandera yang tewas pada Gaza kepada keluarga mereka. Serta mulainya “rencana rekonstruksi besar-besaran untuk Gaza,” kata Biden.
“Ini adalah kesepakatan gencatan senjata yang saya usulkan pada musim semi lalu. Hari ini, Hamas dan Israel telah menyetujui kesepakatan tersebut dan menyelesaikan perang,” ujarnya.
Serbuan Israel
Kemudian kesepakatan gencatan senjata ini tercapai pada hari ke-467 setelah serbuan Israel ke Jalur Gaza. Serangan pasukan Zionis itu telah menewaskan lebih dari 46.700 warga Palestina. Sebagian besar perempuan dan anak-anak, sejak Hamas melancarkan serangan lintas batas pada 7 Oktober 2023.
Sekitar 1.200 orang tewas dalam serangan lintas batas Hamas itu, dan sekitar 250 lainnya dibawa ke Gaza sebagai sandera. Lebih dari 11.000 warga Palestina hilang akibat kehancuran besar-besaran oleh pemboman Israel Gaza. Sementara krisis kemanusiaan yang meluas telah merenggut nyawa banyak warga Palestina. Baik muda maupun tua, menjadikannya salah satu bencana kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern.
Kemudian Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November untuk pemimpin otoritas Israel. Benjamin Netanyahu, dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan pada wilayah Gaza. Israel juga menghadapi kasus genosida pada Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang pada wilayah tersebut.