New Meksiko (Lampost.co)—Meksiko memiliki presiden baru. Seorang wanita dan keturunan Yahudi pertama akan memimpin negara yang berbatasan dengan Amerika Serikat (AS) itu.
Claudia Sheinbaum, ilmuwan iklim dan mantan wali kota Mexico City, memenangkan pemilihan umum, Minggu (2/6/2024). Dia meraih kemenangan secara telak dan membawa tonggak sejarah ganda. Dia menjadi wanita pertama dan orang Yahudi pertama, yang menjadi presiden Meksiko.
Hasil awal menunjukkan Sheinbaum (61) menang dalam apa yang disebut pihak berwenang sebagai pemilihan umum terbesar dalam sejarah Meksiko. Hal tersebut terlihat dari jumlah pemilih terbanyak yang ikut dan kursi terbanyak yang menjadi perebutan.
Itu adalah pemilihan umum bersejarah yang melihat bukan hanya satu, melainkan dua wanita bersaing memimpin salah satu negara terbesar di belahan bumi tersebut. Tidak hanya itu, Meksiko akan menempatkan seorang pemimpin Yahudi di pucuk pimpinan negara yang sebagian besar penduduknya beragama Katolik terbesar di dunia.
Sheinbaum, seorang sayap kiri, berkampanye dengan sumpah melanjutkan warisan presiden Meksiko saat ini dan mentornya, Andrés Manuel López Obrador. Hal yang menggembirakan basis partai mereka—dan menimbulkan kekhawatiran di antara para pencela.
Penerus Obrador
Banyak orang memandang pemilu tersebut sebagai referendum atas kepemimpinan Obrador. Kemenangan Sheinbaum merupakan tanda kepercayaan yang jelas terhadap López Obrador dan partai besutannya.
López Obrador telah sepenuhnya mengubah politik Meksiko. Selama masa jabatannya, jutaan orang Meksiko terangkat dari kemiskinan dan upah minimum meningkat dua kali lipat. Namun, ia juga merupakan presiden yang sangat memecah belah, mendapat kritik karena gagal mengendalikan kekerasan kartel yang merajalela. Kemudian, karena menghambat sistem kesehatan negara, dan karena terus-menerus melemahkan lembaga-lembaga demokrasi.
Namun, López Obrador tetap populer dan daya tariknya yang abadi mendorong penggantinya terpilih. Dan untuk semua tantangan yang negara itu hadapi, pihak oposisi tidak dapat meyakinkan orang Meksiko bahwa kandidat mereka adalah pilihan yang lebih baik.
“Kami mencintainya, kami ingin dia bekerja seperti Obrador,” kata Gloria Maria Rodríguez (78) dari Tabasco, tentang Sheinbaum, mengutip The New York Times, Senin (3/6/2024).
“Kami menginginkan presiden seperti Obrador,” ujar Rodriguez.
Unggul 58%
Menurut hasil awal, Sheinbaum menang dengan sedikitnya 58% suara. Ini menunjukkan dia unggul 29 poin dari pesaing terdekatnya, Xóchitl Gálvez, seorang pengusaha dan mantan senator dari koalisi partai oposisi.
Jika hasil awal tetap berlaku, Sheinbaum akan memperoleh suara yang lebih banyak daripada kandidat mana pun dalam beberapa dekade.
Berbicara kepada para pendukungnya pada Senin pagi, Sheinbaum berjanji bekerja atas nama semua warga Meksiko, menegaskan kembali komitmen partainya terhadap demokrasi, dan merayakan kenaikan jabatan tertinggi negara yang menjadi terobosan.
“Untuk pertama kalinya dalam 200 tahun berdirinya republik ini, saya akan menjadi presiden perempuan pertama Meksiko,” kata Sheinbaum.
“Dan seperti yang telah saya katakan pada kesempatan lain, saya tidak datang sendirian. Kami semua datang, bersama para pahlawan wanita yang memberi kami tanah air, bersama para leluhur, ibu, anak perempuan, dan cucu perempuan kami,” tambah Sheinbaum.
Sheinbaum mengatakan ia menerima telepon dari Gálvez dan kandidat ketiga, Jorge Álvarez Máynez, untuk memberi selamat atas kemenangannya. Tidak lama setelah pidato Sheinbaum, Gálvez memberi tahu para pendukungnya bahwa hasil awal “tidak menguntungkan bagi pencalonan saya,” dan “tidak dapat diubah,” seraya mencatat ia baru saja berkomunikasi dengan Sheinbaum.
Gálvez mengatakan dalam sebuah wawancara beberapa hari sebelum pemungutan suara pada hari Minggu bahwa “suara antisistem” terhadap López Obrador dapat membantu mendorongnya menuju kemenangan. Kenyataannya, tampaknya banyak orang Meksiko masih mengaitkan partai-partai yang mendukungnya dengan sistem yang mereka anggap tidak kompeten dan korup.







