Jakarta – Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Negosiasi intens selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, tidak menghasilkan kesepakatan yang diharapkan.
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengonfirmasi langsung hasil tersebut kepada media. Ia menyampaikan timnya kembali ke Amerika Serikat tanpa membawa hasil konkret.
“Kami kembali ke AS tanpa mencapai kesepakatan,” ujar Vance saat berada di Islamabad pada Minggu dini hari waktu setempat.
Perbedaan Sikap Jadi Penghambat Utama
Vance menegaskan pihaknya menyampaikan batasan dan opsi kompromi secara jelas selama perundingan berlangsung. Namun, Iran tidak menerima syarat yang diajukan.
“Kami menjelaskan dengan sangat jelas apa saja batasannya. Kami juga menyampaikan apa yang bisa kami akomodasi dan yang tidak,” kata Vance.
Ia menilai keputusan Iran untuk menolak persyaratan tersebut menjadi alasan utama kegagalan negosiasi.
Fokus Pembicaraan: Selat Hormuz hingga Sanksi
Dalam pertemuan tersebut, tim AS didampingi Jared Kushner dan Steve Witkoff. Mereka bertemu dengan delegasi Iran yang dipimpin Mohammad-Bagher Ghalibaf.
Pembahasan melibatkan sejumlah isu strategis, termasuk keamanan Selat Hormuz, rencana perpanjangan gencatan senjata, dan kemungkinan pelonggaran sanksi.
Tim teknis dari kedua negara juga ikut bergabung untuk memperdalam pembahasan pada hari kedua perundingan.
Meski membahas banyak hal teknis, kedua pihak tidak menyentuh akar konflik utama. Pemerintah AS menilai program nuklir Iran dan dukungan terhadap kelompok bersenjata sebagai pemicu utama konflik.
Namun, isu tersebut tidak menjadi fokus dalam pembicaraan di Islamabad. Kondisi itu membuat negosiasi berjalan tanpa arah yang jelas.
Konflik Regional Memperumit Negosiasi
Kegagalan itu menjadi pukulan bagi kedua negara setelah sebelumnya berhasil menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan.
Di sisi lain, situasi di lapangan terus memburuk. Jalur pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan akibat meningkatnya ketegangan militer.
Selain itu, konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon terus berlanjut dan menambah tekanan terhadap proses diplomasi.
Kebuntuan itu memperlihatkan betapa kompleksnya konflik di Timur Tengah. Upaya damai masih menghadapi tantangan besar dari berbagai kepentingan politik dan militer.
Para pengamat menilai negosiasi lanjutan untuk mencegah eskalasi yang lebih luas. Namun, hingga kini belum ada kepastian kapan kedua pihak akan kembali ke meja perundingan. Situasi itu membuat dunia internasional terus memantau perkembangan konflik dengan penuh kekhawatiran.








