Dua kapal yang disita diidentifikasi sebagai MSC Francesca dan Epaminondas. Keduanya diduga memiliki keterkaitan operasional dengan Israel.
Jakarta (Lampost.co) — Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC menyergap dua kapal kargo komersial.
Media Iran melaporkan aksi tersebut terjadi pada Jumat, 24 April 2026. Otoritas setempat menyebut operasi itu sebagai langkah penegakan hukum maritim.
Dua kapal yang disita diidentifikasi sebagai MSC Francesca dan Epaminondas. Keduanya diduga memiliki keterkaitan operasional dengan Israel.
Menurut laporan resmi, kedua kapal tersebut melanggar aturan pelayaran internasional. IRGC menilai kapal beroperasi tanpa izin sah.
Selain itu, otoritas Iran menuduh kapal melakukan manipulasi sistem navigasi. Tindakan itu bisa membahayakan kapal lain di jalur padat tersebut.
Petugas IRGC kemudian mencegat kapal di perairan strategis. Mereka langsung mengawal kapal menuju wilayah teritorial Iran. Langkah itu menunjukkan peningkatan kontrol Iran atas jalur laut vital dunia.
Situasi di kawasan semakin memanas sejak konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat sejak Februari 2026. Sejak saat itu, Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz. Jalur itu menjadi titik krusial distribusi energi global.
Ketegangan bertambah setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran pada April. Kombinasi langkah militer dan ekonomi itu membuat kawasan berada dalam tekanan tinggi.
Selat Hormuz sebagai jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dunia. Gangguan di wilayah itu langsung berdampak pada pasar energi global.
Negara-negara Asia menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi membuat kawasan itu rentan.
Analis menilai aksi penyitaan kapal akan memperbesar ketidakpastian pasar. Risiko lonjakan harga energi pun semakin terbuka. Jika ketegangan terus berlanjut, stabilitas perdagangan global bisa ikut terganggu.
Hingga kini, belum ada tanda meredanya konflik di kawasan tersebut. Negosiasi diplomatik berjalan lambat dan belum menghasilkan terobosan.
Langkah Iran di Selat Hormuz menunjukkan strategi tekanan terhadap lawan. Sementara itu, pihak Barat tetap mempertahankan kebijakan kerasnya.
Kondisi itu membuat jalur pelayaran internasional berada dalam situasi rawan. Dunia kini menunggu apakah ketegangan akan mereda atau justru meningkat dalam waktu dekat.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update