Jakarta (Lampost.co)— Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai risiko penyebaran lebih luas virus Nipah dari klaster kasus terbaru di India masih tergolong rendah.
Penilaian tersebut disampaikan menyusul temuan lima kasus infeksi virus Nipah di negara bagian Benggala Barat, India. Hal ini mengakibatkan sekitar 100 orang harus menjalani karantina sebagai langkah pencegahan.
Seorang pejabat WHO menyatakan bahwa India menilai memiliki kapasitas dan pengalaman memadai dalam menangani wabah virus Nipah. Ini sebagaimana telah menunjukkan dalam beberapa kejadian sebelumnya.
Baca juga: Pakar Ungkap Superflu Sebagai Mutasi Virus H3N2
Saat ini, langkah-langkah respons kesehatan masyarakat telah jalankan secara terkoordinasi oleh pemerintah pusat India bersama otoritas kesehatan tingkat negara bagian.
“Rekomendasi penanganan wabah sedang mereka terapkan, termasuk pelacakan kontak, isolasi pasien. Serta penguatan pengawasan epidemiologis,” ujar pejabat WHO tersebut.
Penularan Kasus Baru
Meski demikian, WHO mengakui bahwa sumber pasti penularan pada kasus terbaru ini belum sepenuhnya teridentifikasi. Hal ini menjadi perhatian karena virus Nipah diketahui bersifat zoonosis dan memiliki reservoir alami pada populasi kelelawar buah (flying fox).
WHO memperingatkan potensi paparan lanjutan masih dapat terjadi, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki populasi kelelawar pembawa virus Nipah. Seperti beberapa bagian India dan Bangladesh, termasuk Benggala Barat.
“Ada kemungkinan paparan berulang, mengingat virus Nipah secara alami beredar pada kelelawar di kawasan ini. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat sangat penting, khususnya terkait faktor risiko seperti konsumsi getah pohon kurma yang dapat terkontaminasi,” kata pejabat WHO, mengutip dari Global Times.
Wabah Nipah ke Tujuh
WHO mencatat, wabah kali ini merupakan wabah Nipah ketujuh yang terdokumentasi di India, serta yang ketiga terjadi di Benggala Barat sejak tahun 2001. Dua wabah sebelumnya di wilayah tersebut tercatat terjadi di Distrik Siliguri pada 2001 dan Distrik Nadia pada 2007, yang keduanya berbatasan langsung dengan Bangladesh—negara yang hampir setiap tahun melaporkan kasus virus Nipah.
Selain Benggala Barat, wabah virus Nipah juga beberapa kali muncul di negara bagian Kerala, India selatan, yang sebelumnya mencatat tingkat fatalitas cukup tinggi meski berhasil dikendalikan melalui respons cepat.
Seiring dengan perkembangan kasus ini, sejumlah negara dan wilayah di Asia mulai meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk internasional. Beberapa bandara di Wilayah Administratif Khusus Hong Kong, Taiwan, Thailand, dan Nepal melaporkan telah memperketat pengawasan kesehatan terhadap penumpang. Termasuk pemeriksaan suhu tubuh dan penelusuran riwayat perjalanan.
Langkah antisipatif tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan lintas negara. Mengingat virus Nipah memiliki tingkat kematian yang tinggi dan belum memiliki pengobatan maupun vaksin spesifik.
WHO kembali menegaskan pentingnya kerja sama regional, transparansi data. Serta edukasi publik sebagai kunci untuk mencegah meluasnya wabah dan meminimalkan risiko kesehatan global.







